Delapan dari 10 Ikan Lokal Kali Surabaya Betina, Pakar IPB University: Polutan Pengganggu Hormon Ancam Populasi
Guru Besar Departemen Budidaya Perairan IPB University, Prof Alimuddin, menyampaikan penjelasan terkait fenomena ketidakseimbangan populasi ikan di Kali Surabaya.
Dari setiap 10 ikan lokal di Kali Surabaya, sekitar delapan berjenis kelamin betina. Menurut Prof Alimuddin, ketimpangan ini dapat dipicu oleh berbagai faktor lingkungan yang memengaruhi penentuan dan diferensiasi kelamin pada larva ikan.
Mengapa Jantan Tinggal 20 Persen?
Prof Alimuddin, secara alami, rasio kelamin ikan umumnya mendekati seimbang (50:50). Namun, kondisi di Kali Surabaya menyimpang jauh dari angka itu.
“Penetapan dan diferensiasi kelamin pada larva ikan sangat peka terhadap dinamika kualitas air dan polusi lingkungan,” ujarnya.
Salah satu pemicunya adalah polutan dan senyawa kimia. “Paparan bahan pencemar yang mengandung estrogen sintetis maupun alami, seperti sisa obat kontrasepsi atau fitoestrogen, mendorong terjadinya feminisasi secara masif pada larva ikan,” jelasnya.
Selain itu, ia mengatakan, kondisi air yang cenderung asam terbukti menghasilkan populasi betina yang lebih dominan. Fluktuasi suhu ekstrem pada masa perkembangan larva turut memengaruhi arah diferensiasi kelamin.
Ancaman bagi Spesies Lokal
Menurut Prof Alimuddin, dampak ketimpangan ini tidak bisa dianggap sepele. “Dominasi populasi betina yang ekstrem berdampak signifikan terhadap keberlangsungan spesies lokal jika terjadi terus-menerus,” katanya. Tingkat kepekaan tiap spesies berbeda, bergantung pada sistem perkawinannya (mating system).
Ia memaparkan tiga dampak utama. Pertama, keterbatasan sperma (sperm limitation). Dengan proporsi jantan hanya 20 persen, ikan jantan berisiko mengalami kelelahan reproduksi (sperm depletion), sehingga pembuahan telur menurun drastis.
Kedua, penurunan variasi genetik (genetic bottleneck). Jumlah jantan yang sedikit memicu perkawinan sekerabat (inbreeding), yang meningkatkan risiko cacat genetik dan menurunkan daya tahan populasi terhadap penyakit.
Ketiga, kegagalan pemijahan dan perawatan induk. Betina yang gagal menemukan pasangan mengalami penyerapan kembali telur (atresia). Pada spesies yang membutuhkan pejantan untuk menjaga telur, kekosongan peran jantan menyebabkan mortalitas telur tinggi akibat serangan predator.
Tiga Langkah Pemulihan
Untuk memulihkan ekosistem Kali Surabaya, Prof Alimuddin menyarankan langkah strategis bagi pemerintah dan pengelola lingkungan.
Langkah pertama adalah pemantauan dan identifikasi senyawa pengganggu endokrin (EDC). “Perlu identifikasi spesifik terhadap kandungan EDC seperti Ethinylestradiol, pestisida, dan phthalates pada air dan sedimen, serta pemetaan titik sumber pencemar atau hotspot mapping,” tuturnya.
Kedua, perbaikan regulasi dan baku mutu air. Menurutnya, standar baku mutu air perlu diperbarui dengan memasukkan parameter zat pengganggu hormon, disertai pengetatan Izin Pembuangan Limbah Cair (IPLC) dan sanksi tegas bagi industri pencemar.
Ketiga, modernisasi infrastruktur instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan restorasi. Teknologi pengolahan limbah tingkat lanjut (AOPs, MBR) perlu diterapkan, dan constructed wetlands dibangun sebagai biofilter.
“Aktivitas penyebaran benih atau restocking sebaiknya ditunda sampai kualitas air membaik,” tegasnya. (dh)
