IPB University Wisuda 1.300 Lulusan Vokasi, Rektor Tekankan Nilai Humanis dan Inovasi di Era AI
IPB University resmi meluluskan 1.300 wisudawan program Sarjana Terapan dan Diploma III Sekolah Vokasi Tahap I Tahun Akademik 2025/2026 di Gedung Grha Widya Wisuda, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Selasa–Rabu (13–14/10).
Pada kesempatan tersebut, Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet, memberikan selamat serta mengingatkan pentingnya menjaga nilai keunggulan manusia di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
“Di tengah era kecerdasan buatan, harga pengetahuan seorang manusia adalah langka. Lulusan Sekolah Vokasi IPB memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mampu melampaui komputer,” ujar Dr Alim.
Ia merujuk pada ajaran Ki Hajar Dewantara mengenai “Mengerti, merasakan, menjalani” sebagai kunci menghadapi kecemasan era digital. Menurutnya, hal-hal yang dikerjakan manusia secara sungguh-sungguh memiliki nilai jauh lebih tinggi dibandingkan hasil produksi komputer.
Rektor menekankan agar lulusan tidak hanya mengejar kecepatan dan efisiensi, tetapi juga membangun kepercayaan di dunia kerja. IPB University mendorong lulusannya untuk memanfaatkan AI sebagai alat bantu untuk berkembang menjadi seorang innopreneur yang menggabungkan inovasi, kewirausahaan, dan kesejahteraan masyarakat.
“Lulusan vokasi adalah orang yang paling dekat dengan lapangan, yang paling tahu masalah petani, peternak, dan pelaku usaha kecil karena pernah bekerja di samping mereka,” tambahnya. Ia berpesan agar alumni terus mengasah keterampilan, mencari mentor, merawat jejaring pertemanan, dan berani mengambil keputusan.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Himpunan Alumni IPB University yang diwakili oleh Director Corporate Banking PT BTN (Persero) Tbk, Helmy Afrisa Nugroho, MM memaparkan tiga pilar utama menuju kesuksesan.
Pilar pertama adalah Find Your Why, yakni menemukan alasan mendasar di balik setiap langkah, seperti membahagiakan orang tua dan membantu masyarakat, agar menjadi kompas pertahanan saat menghadapi masa-masa sulit.
Pilar kedua, ia mendorong wisudawan untuk tidak takut gagal dan tidak mudah menyerah karena perjalanan sukses tidak selalu linier, sehingga penting untuk mengubah respons terhadap kegagalan dan terus beradaptasi.
“Terakhir, pilar Make a Difference menekankan kesuksesan akan terasa jauh lebih bermakna ketika ilmu serta keahlian yang dimiliki digunakan untuk membantu orang lain berkembang dan memberi dampak nyata bagi lingkungan sekitar,” terangnya. (MW)
