SoraHita, Program Mahasiswa IPB University Kembangkan Komunikasi Fungsional Anak Disabilitas Intelektual
Kemampuan menyampaikan kebutuhan secara jelas menjadi bagian penting dalam komunikasi sehari-hari, termasuk bagi anak disabilitas intelektual. Tim Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Masyarakat (PKM-PM) IPB University mengembangkan SoraHita untuk membantu anak memahami dan menyampaikan kebutuhan secara konkret dalam kehidupan sehari-hari.
Program yang dilaksanakan di Sekolah Luar Biasa (SLB) BC Mekarsari 2 Bogor tersebut melibatkan 14 anak disabilitas intelektual sebagai sasaran. Hasil intervensi menunjukkan sebanyak 85,71 persen anak mengalami peningkatan dalam menyusun kata secara lebih runtut untuk menyampaikan kebutuhan yang diinginkan.
Perubahan tersebut juga mulai dirasakan oleh orang tua dalam komunikasi sehari-hari. “Setelah program kemarin, alhamdulillah, anak saya sudah bisa menyampaikan kata-kata sesuai dengan apa yang memang diinginkan,” tutur salah satu orang tua sasaran SoraHita.
Respons Belum Sesuai Pesan
Anjani Natalia selaku ketua tim menyampaikan, SoraHita dirancang sebagai respons terhadap kondisi komunikasi anak disabilitas intelektual yang masih menghadapi tantangan dalam memahami pesan dan memberikan respons sesuai konteks. Bersama keempat rekannya, ia mengembangkan SoraHita di bawah bimbingan Dr Adisti PP Hartoyo.
Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu pengajar sebelum program digulirkan, sebagian besar anak disabilitas intelektual mampu memberikan respons, tetapi belum menunjukkan pemahaman terhadap pesan yang diterima. Kondisi ini dapat menimbulkan ketidaksesuaian antara kebutuhan anak dan respons yang diberikan.
“Hal tersebut kemudian dapat memicu kesalahpahaman dalam interaksi. Karena itu, melalui program ini, kami berfokus pada kemampuan memahami dan menyampaikan kebutuhan secara konkret dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Anjani.
Belajar Kata Sesuai Konteks
SoraHita menggunakan pendekatan yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak. Salah satu bagian dari SoraHita, yakni “SoraKata: Suara Asah”, dirancang untuk membantu anak memahami dan menggunakan kata dalam membentuk komunikasi sederhana. Pembelajarannya dilakukan secara bertahap: Kata Diri, Kata Aksi, dan Kata Utuh.
“Pada tahap Kata Utuh, anak dilatih menggabungkan unsur subjek, kata “mau”, serta kata yang menunjukkan objek atau aktivitas yang diinginkan. Proses pembelajaran menggunakan KataSora Card dan KataSora Board melalui kegiatan mendongeng dan bermain peran dengan boneka SoHi,” tutur Anjani.
Ia melanjutkan, anak diajak mengenali situasi sederhana, memilih kartu yang sesuai, kemudian menyusunnya berdasarkan konteks yang diberikan. Tim juga memberikan prompting dan penguatan secara bertahap sesuai dengan kemampuan masing-masing anak.
Melalui program tersebut, Anjani dan tim berharap media KataSora Card dan KataSora Board dapat terus dimanfaatkan oleh pengajar dan orang tua sebagai media pendukung komunikasi anak. Keberlanjutan pemanfaatan media diharapkan dapat membantu anak menerapkan kemampuan komunikasi yang telah dilatih dalam aktivitas sehari-hari. (*/Rz)
