Pakar Oseanografi IPB Ungkap Dinamika Laut Selat Sunda Sulitkan Pencarian 8 Korban Hilang di Area Krakatau

Pakar Oseanografi IPB Ungkap Dinamika Laut Selat Sunda Sulitkan Pencarian 8 Korban Hilang di Area Krakatau

pakar-oseanografi-ipb-ungkap-dinamika-laut-selat-sunda-sulitkan-pencarian-8-korban-hilang-di-area-krakatau
Ilustrasi: magnific
Berita / Riset dan Kepakaran

Pencarian terhadap lima jurnalis dan tiga kru kapal yang hilang di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau hingga kini masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan. Hingga memasuki hari ke-23, tanda-tanda keberadaan para korban maupun bangkai kapal belum juga terdeteksi akibat kompleksnya kondisi perairan setempat.

Pakar Oseanografi IPB University Prof Agus S Atmadipoera menjelaskan, karakteristik Selat Sunda sangat dinamis dengan arus yang terbilang sangat kuat, terutama pada periode Juli hingga September. Selain arus pasang surut yang mempercepat pergerakan air, gelombang musim timur dari arah selatan serta topografi kawasan yang kompleks menjadi kendala utama pencarian.

“Kombinasi tersebut serta topografi yang sangat kompleks di kawasan Selat Sunda memberikan arus yang sangat kuat, sehingga hal itu yang saya kira mempengaruhi kehilangan kapal sulit dicari oleh tim Basarnas,” ujar Prof Agus di acara Top News Metro TV (19/9).

Ia menambahkan, dinamika arus di kawasan tersebut cenderung mengarah ke Samudera Hindia di sisi selatan atau barat daya. Jika kapal mengalami kondisi terombang-ambing (drifting) di permukaan tanpa sinyal komunikasi, pergerakannya sangat cepat keluar dari jalur utama. 

“Dari hitungan saya, secara kasar, dari sekitar Krakatau itu 2–3 hari sudah terlepas ke Samudera Hindia, keluar dari Selat Sunda bila memasuki arus utama yang kuat,” jelasnya.

Namun, Prof Agus juga menyebutkan adanya kemungkinan arus balik atau resirkulasi. Fenomena ini berpotensi membawa objek terdampar ke kawasan kepulauan di selatan, seperti Pulau Panaitan dan Ujung Kulon, karena arus di sisi belakang Kepulauan Krakatau cenderung lebih lemah.

Untuk mengoptimalkan pencarian, Prof Agus menyarankan pemanfaatan teknologi satelit pemantau serta kolaborasi lintas pihak di lapangan.

“Upaya Basarnas sudah maksimal, namun dapat dibantu dengan satelit beresolusi ultra tinggi yang misalkan 1 meter kurang untuk memastikan start point dan probabilitas area pencarian,” ungkapnya.

Selain bantuan pencitraan satelit pada hari-hari awal kejadian, koordinasi dengan komunitas lokal juga dinilai sangat krusial. “Praktisnya bisa juga koordinasi dengan nelayan dari Cilacap dan Pelabuhan Ratu yang bulan-bulan ini cenderung lari ke arah Bengkulu,” tutur Prof Agus.

Terkait keselamatan pelayaran nonmiliter di zona rawan erupsi dan arus ekstrem seperti Krakatau, Prof Agus mengingatkan pentingnya pemantauan peringatan dini vulkanologi serta kesiapan mitigasi risiko teknis, mengingat tidak adanya sinyal mayday yang terdeteksi sejak awal kejadian. (MW)