Paha Besar Belum Tentu Panjang Umur, Dosen FKGiz IPB University Jelaskan Faktanya
Anggapan bahwa seseorang dengan paha besar memiliki peluang hidup lebih panjang tidak sepenuhnya benar. Hal itu disampaikan dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Yunita Aryani, MSi, MH.
Ia menjelaskan, sejumlah penelitian memang menemukan lingkar paha yang sangat kecil berkaitan dengan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian dini yang lebih tinggi. Namun, bukan berarti semakin besar paha, semakin panjang pula usia seseorang.
“Lingkar paha yang terlalu kecil merupakan salah satu penanda rendahnya massa otot, status gizi yang kurang baik atau kondisi kesehatan tertentu. Hal ini akan berkaitan dengan peningkatan tentunya dengan risiko penyakit dan kematian,” ujar dr Yunita”
Penelitian kohort yang diterbitkan dalam British Medical Journal (BMJ) menemukan lingkar paha kecil berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit penyakit jantung koroner, dan dapat berakibat kematian dini pada laki-laki maupun perempuan.
Namun, penelitian tersebut menunjukkan adanya efek ambang batas sehingga ukuran paha yang lebih besar setelah batas tertentu tidak otomatis memberikan manfaat tambahan.
Bukan Sekadar Ukuran Paha
Dijelaskan dr Yunita, lingkar paha terdiri atas tulang, massa otot, lemak subkutan, cairan, serta jaringan lainnya. Dua orang dengan lingkar paha yang sama belum tentu memiliki kondisi kesehatan yang serupa.
“Menilai derajat kesehatan seseorang hanya dengan melihat jumlah massa otot saja tidak cukup. Kekuatan dan fungsi otot sering kali memberikan informasi yang lebih bermakna daripada ukuran semata,” katanya.
Otot rangka, termasuk otot pada paha, berperan dalam penggunaan glukosa, sensitivitas insulin, pengendalian gula darah, mobilitas, keseimbangan, serta penyediaan cadangan protein ketika tubuh mengalami penyakit atau stres metabolik.
dr Yunita juga menjelaskan bahwa lemak di paha dan bokong berbeda karakteristik dengan lemak visceral. Lemak visceral lebih aktif secara metabolik dan berkaitan dengan resistensi insulin, perlemakan hati, diabetes tipe 2, gangguan kolesterol, hipertensi, serta penyakit kardiovaskular lainnya.
Karena itu, ia menandaskan, lingkar paha tidak dapat dijadikan indikator kesehatan secara mandiri. Kesehatan secara menyeluruh lebih dipengaruhi pola hidup, aktivitas fisik, pola makan, pola tidur, kondisi kesehatan mental, faktor genetik, lingkungan, serta adanya bukti pemeriksaan kesehatan secara berkala.
“Jadi, bukan sekadar seberapa besar pahanya, tetapi apa yang menyusun paha tersebut dan seberapa baik fungsinya,” ujar dr. Yunita.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak merasa sehat hanya karena memiliki paha besar. “Ingat bukan besarnya paha, namun massa otot yang terbentuk dari besarnya paha.” (Fj)
