Kuskus Waigeo di Atas Pohon Tumbang, Pakar IPB University: Sinyal Hilangnya Habitat Satwa Endemik Papua

Kuskus Waigeo di Atas Pohon Tumbang, Pakar IPB University: Sinyal Hilangnya Habitat Satwa Endemik Papua

kuskus-waigeo-di-atas-pohon-tumbang-pakar-ipb-university-sinyal-hilangnya-habitat-satwa-endemik-papua
Foto: Instagram @fidell_bengg
Riset dan Kepakaran

Video viral yang memperlihatkan kuskus Waigeo (Spilocuscus papuensis) berada di atas batang pohon yang telah ditebang menjadi perhatian terhadap kondisi habitat satwa endemik Papua Barat. 

Dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University, Dr Abdul Haris Mustari, menilai kemunculan kuskus pada pohon tumbang tersebut merupakan indikasi kuat bahwa satwa kehilangan habitat alaminya.

Satwa Arboreal
Kuskus Waigeo merupakan hewan berkantung dari famili Phalangeridae, satwa endemik Pulau Waigeo, Papua Barat. Menurut Dr Mustari, satwa tersebut sepenuhnya arboreal sehingga keberlangsungan hidupnya sangat bergantung pada keberadaan hutan dan pepohonan.

“Kuskus Waigeo adalah satwa arboreal penuh. Hutan adalah segalanya bagi satwa ini karena menjadi habitat, tempat mencari makan dan minum, berlindung, serta berkembang biak,” ujar Dr Mustari.

Ia menjelaskan, kuskus Waigeo dapat menghuni berbagai tipe hutan, mulai dari hutan mangrove, hutan pantai, hutan dataran rendah, hingga hutan pegunungan. Satwa ini juga bersifat omnivora dengan makanan berupa buah, daun, bunga, serangga, telur dan anak burung, serta reptil berukuran kecil.

Karena itu, keberadaan kuskus di atas pohon yang telah ditebang dinilai sebagai kondisi yang tidak biasa. Dr Mustari menyebut, satwa tersebut semestinya berada di tajuk hutan primer atau hutan sekunder tua. 

“Kuskus Waigeo yang berada di atas pohon tumbang jelas menunjukkan bahwa satwa ini kehilangan habitat yang selama ini dihuni secara turun-temurun,” katanya. Kondisi tersebut menjadi semakin serius karena kuskus Waigeo memiliki pergerakan yang relatif lambat dan hidup secara soliter. 

Di Ambang Kepunahan
Lebih jauh, Dr Mustari menilai hilangnya kanopi membuat kuskus lebih mudah terpapar gangguan, kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung, serta meningkatkan risiko ditangkap manusia. Penebangan dan fragmentasi hutan dapat menyebabkan populasi kuskus terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil. 

“Kondisi ini berpotensi menurunkan variasi genetik melalui perkawinan sekerabat atau inbreeding, menurunkan angka kelahiran, meningkatkan kematian, dan pada akhirnya mendorong populasi menuju ambang kepunahan (extinction vortex),” paparnya.

Dr Mustari menekankan pentingnya menjaga kesinambungan tajuk antar pohon agar kuskus dapat berpindah secara alami. Pada habitat yang telah terfragmentasi, koridor penghubung antarkawasan hutan juga perlu dipertahankan atau dipulihkan.

“Penebangan hutan dan konversi lahan secara perlahan tetapi pasti dapat menggiring satwa endemik ini menuju kepunahan. Kehilangan biodiversitas berarti kehilangan salah satu mata rantai kehidupan,” pungkasnya. (dr)