Ahli IPB University Ungkap Fakta Unik Capung: Predator Ulung dengan Tingkat Keberhasilan Berburu 95 Persen
Capung dikenal bukan hanya karena kemampuannya bermanuver di udara, tetapi juga sebagai predator dengan kemampuan berburu yang sangat tinggi.
Capung dari subordo Anisoptera merupakan salah satu predator paling sukses di dunia dengan tingkat keberhasilan menangkap mangsa mencapai 95 persen.
“Banyak penelitian menunjukkan bahwa capung Anisoptera merupakan predator paling sukses di dunia. Keberhasilan predasi capung jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah predator lain,” ujar Pakar Biologi Serangga IPB University, Prof Tri Atmowidi.
Guru Besar Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University tersebut memaparkan, dalam taksonomi, capung (ordo Odonata) memiliki dua subordo, yakni Anisoptera atau capung biasa (dragonfly) dan Zygoptera atau capung jarum (damselfly).
Studi Rachel Crane, peneliti dari University of California Davis pada 2023 melaporkan tingkat keberhasilan capung menangkap mangsa mencapai 95 persen, sedangkan lumba-lumba sekitar 90 persen, citah sekitar 50 persen, dan serigala sekitar 20 persen.
Didukung Mata dan Sistem Saraf Canggih
Prof Tri menjelaskan, kesuksesan berburu pada capung merupakan hasil adaptasi evolusi yang melibatkan sistem penglihatan (visual), sistem saraf, kemampuan terbang yang didukung sistem otot pada toraks, dan adaptasi morfologi.
“Capung memiliki sepasang mata majemuk berukuran sangat besar yang mencakup hampir seluruh bagian kepala. Setiap mata tersusun atas sekitar 30.000 unit mata tunggal atau omatidia.
Mata capung mampu melihat hampir 360 derajat, sehingga dapat mendeteksi pergerakan benda di atas, bawah, depan, dan belakang secara bersamaan,” terangnya.
Kemampuan berburu juga ditunjang sistem saraf pusat. Prof Tri menjelaskan, capung memiliki populasi sel saraf khusus yang disebut target-selective descending neurons (TSDNs). “TSDNs ini berfungsi memproses sinyal visual objek kecil yang bergerak dan memungkinkan capung bereaksi terhadap manuver mangsa dalam hitungan milidetik,” ujarnya.
Empat sayap yang terhubung langsung dengan otot toraks turut membantu capung mengontrol penerbangan dan melakukan manuver cepat. Selain itu, tungkai capung dilengkapi kait dan duri yang membuatnya mampu menangkap mangsa secara efektif.
Predator Sejak Fase Nimfa
Kemampuan predator capung juga terlihat sejak fase nimfa. “Nimfa capung juga merupakan predator yang efektif di ekosistem perairan tawar yang memangsa larva nyamuk (jentik) dan hewan-hewan kecil lainnya pada perairan,” jelas Prof Tri.
Nimfa memiliki organ mulut khusus berupa labium yang dapat didorong ke depan secara hidraulik menggunakan tekanan cairan tubuh untuk menangkap mangsa. Tingkat keberhasilan predasinya berkisar 60–70 persen.
“Berdasarkan studi metaanalisis, satu ekor nimfa capung mampu mengonsumsi rata-rata 40 larva nyamuk per hari,” ungkapnya. Nimfa juga memangsa larva nyamuk Aedes, Anopheles, dan Culex. Capung dewasa turut berperan sebagai pemangsa nyamuk di daratan.
Selain sebagai predator alami, capung dapat menjadi bioindikator kesehatan lingkungan karena nimfanya sensitif terhadap pencemaran air dan penurunan kadar oksigen terlarut.
“Keberadaan populasi capung yang melimpah di suatu wilayah mengindikasikan kualitas air dan lingkungan di area tersebut masih bersih yang belum banyak terkontaminasi polutan,” pungkas Prof Tri. (Fj)
