IPB University Perkuat Ekosistem Beras Berbasis Pesantren Bersama Bank Indonesia di Jawa Timur

IPB University Perkuat Ekosistem Beras Berbasis Pesantren Bersama Bank Indonesia di Jawa Timur

ipb-university-perkuat-ekosistem-beras-berbasis-pesantren-bersama-bank-indonesia-di-jawa-timur
Berita / Pengabdian Masyarakat

Pusat Studi Bisnis dan Ekonomi Islam (CI-BEST) IPB University bersama Bank Indonesia mengembangkan ekosistem beras berbasis pondok pesantren (ponpes) sebagai model penguatan ketahanan pangan sekaligus pengendalian inflasi di Kabupaten Lamongan dan Jombang, Jawa Timur.

Sinergi ini diwujudkan lewat Program Kemandirian Ekonomi Pesantren Berbasis Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Kegiatan diawali dengan Forum Sinergi dan Diskusi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Lamongan di Ponpes Sunan Drajat, kemudian dilanjutkan di Ponpes Fathul Ulum, Kabupaten Jombang.

Gandeng Ponpes Perintis Digitalisasi Ekonomi
Pada kegiatan di Lamongan, forum mempertemukan pemerintah daerah, ponpes, petani, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat rantai pasok beras dari hulu hingga hilir. 

Perwakilan Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia, Yason Taufik Akbar, MSc, menegaskan bahwa program ini dirancang untuk memangkas rantai distribusi pangan yang selama ini terlalu panjang.

“Jalur perdagangan pangan kita sering kali melewati lima hingga enam titik yang membuat harga di tingkat konsumen melambung. Melalui program ini, kita memotong rantai tersebut agar jalur distribusi menjadi efisien, langsung dari petani, diproses di RMU (rice milling unit) ponpes, dan diserap oleh ponpes serta BUMD,” ujarnya.

Ia juga mendorong penerapan contract farming serta pemanfaatan dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) produktif sebagai alternatif pembiayaan bagi petani binaan.

Direktur Riset Ponpes Sunan Drajat, Didik, mengaku pesantrennya telah memiliki ekosistem usaha yang kuat. Ia menjelaskan bahwa jaringan Toserba (Toko Rakyat Serba Ada) milik pesantren telah mengoperasikan 100 titik ritel dengan rencana ekspansi terbaru di Sidoarjo. Ponpes perintis digitalisasi ekonomi ini juga tengah mengembangkan kandang ayam pedaging berkapasitas 600.000 ekor. 

Di Lamongan, forum juga diisi diskusi bersama petani Desa Canggah yang menyampaikan berbagai tantangan budi daya, mulai dari keterbatasan air, serangan tikus dan wereng, hingga persoalan teknis pemupukan.

Menanggapi hal tersebut, tim ahli budi daya IPB University menyiapkan pendampingan melalui teknologi bioimunisasi, rekomendasi varietas adaptif, pemasangan automatic weather station (AWS), uji kandungan tanah, serta pengembangan lahan percontohan seluas tiga hektare yang didampingi Gapoktan.

MoU Serap Hasil Panen Padi IPB 9G Petani
Program kemudian diperluas ke Kabupaten Jombang melalui kerja sama dengan Ponpes Fathul Ulum. Di lokasi ini, fokus pengembangan diarahkan pada penyusunan model kemitraan antara ponpes dan Gapoktan Desa Sugihwaras yang diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah.

“Melalui uji coba ekosistem beras di Jombang ini, kita sedang bergerak menuju pembentukan model penguatan pangan berbasis pesantren yang siap direplikasi secara luas di berbagai wilayah Indonesia,” kata Yason.

Program di Jombang juga memperkenalkan varietas unggul IPB University, yaitu IPB 9G, IPB 13S, dan IPB 15S. Koordinator Budidaya, Dr Ahmad Junaedi, menjelaskan bahwa infrastruktur pendukung seperti vertical dryer dan AWS telah disiapkan untuk mendukung budi daya. 

“Produktivitas benih baru IPB terbukti menjanjikan. Gus Zahir selaku ketua koperasi yang mewadahi para petani, mengonfirmasi, “Panen padi varietas IPB 9G musim tanam pertama rata-rata sebanyak 6,3 ton per hektar. Panen musim tanam kedua diperkirakan akhir Juli 2026.”

Rangkaian kegiatan di Jombang ini ditutup dengan kesepakatan kontrak (MoU) antara para petani dengan Botani Seed terkait serapan hasil panen khusus varietas IPB 9G selama satu tahun.

Melalui kolaborasi dengan Bank Indonesia, pemerintah daerah, ponpes, BUMD, koperasi, dan kelompok tani, IPB University berharap model ekosistem beras berbasis pesantren ini mampu menciptakan rantai pasok yang lebih efisien, menjamin kepastian harga bagi petani, memperkuat pengendalian inflasi pangan, sekaligus menjadi model ketahanan pangan nasional yang dapat diterapkan di berbagai daerah. (*/Rz)