Dosen IPB University Jelaskan Abu Vulkanik Anak Krakatau Terbawa Angin ke Arah Samudra

Dosen IPB University Jelaskan Abu Vulkanik Anak Krakatau Terbawa Angin ke Arah Samudra

dosen-ipb-university-jelaskan-abu-vulkanik-anak-krakatau-terbawa-angin-ke-arah-samudra
Foto: CSU/CIRA & JMA/JAXA/Handout via REUTERS
Riset dan Kepakaran

Sebagian besar abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 lalu bergerak ke arah barat menuju Samudra Hindia dan menjauhi daratan Indonesia. 

Menurut dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, SSi, MSi, kondisi tersebut tidak terlepas dari arah dan kecepatan angin pada ketinggian tempat abu berada, yang dapat berbeda dari kondisi angin di permukaan.

“Faktor utamanya adalah arah dan kecepatan angin pada ketinggian tempat abu berada, bukan sekadar angin yang terasa di permukaan. Semakin tinggi kolom erupsi, abu dapat masuk ke lapisan angin yang berbeda,” jelasnya.

Kondisi tersebut terlihat dari informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 7 September 2026. Abu vulkanik hingga ketinggian sekitar 15.000 kaki bergerak ke arah barat dengan kecepatan sekitar 15 knot. Sementara itu, pada lapisan hingga 50.000 kaki, abu telah terbawa lebih jauh menuju Samudra Hindia dan menjauhi wilayah Indonesia.

Vertical Wind Shear
Perbedaan arah dan kecepatan angin antarlapisan atmosfer dikenal sebagai vertical wind shear. Kondisi ini membuat material erupsi yang berada pada ketinggian berbeda dapat menempuh jalur yang berbeda pula.

“Di dekat permukaan, angin dipengaruhi oleh gesekan dengan daratan dan vegetasi, topografi, perbedaan suhu darat dan laut, serta angin lokal seperti sea breeze dan land breeze. Di lapisan yang lebih tinggi, pengaruh gesekan permukaan semakin kecil sehingga angin dapat lebih kencang dan arahnya berbeda,” terangnya.

Karena itu, sebagian abu dapat tetap berada di sekitar kawasan gunung, sementara material yang mencapai lapisan atmosfer lebih tinggi dapat terbawa lebih jauh ke arah samudra. 

Banyak Faktor
Sebaran abu dipengaruhi oleh tinggi kolom erupsi, intensitas dan durasi erupsi, turbulensi, stabilitas atmosfer, serta hujan. Kolom erupsi yang lebih tinggi memungkinkan abu memasuki lapisan atmosfer dengan karakter angin yang berbeda sehingga jangkauan dan arahnya dapat berubah.

Perubahan arah angin juga dapat membuat pola sebaran abu berubah dalam waktu relatif cepat. Ia mengatakan, abu yang baru keluar dari kawah dapat mengikuti perubahan angin dalam hitungan puluhan menit hingga beberapa jam. Namun, abu yang telah lebih dahulu terbawa angin tidak serta-merta berbalik arah.

“Material yang sudah terbawa sebelumnya akan tetap mengikuti jalur angin lama, sedangkan material baru akan mengikuti kondisi angin yang terbaru. Karena itu, sebaran abu dapat membentuk pola yang berbeda pada waktu yang berbeda,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi perubahan arah sebaran, ia menyebut sejumlah kondisi yang perlu diperhatikan, antara lain profil angin vertikal, ketinggian kolom erupsi, perubahan arah angin lapisan atas, angin lokal di sekitar Selat Sunda, serta sistem cuaca skala luas.

Pada 10 September 2026, BMKG melaporkan abu vulkanik tidak lagi terdeteksi di wilayah udara Indonesia karena telah menjauh ke Samudra Hindia. Namun, pola sebaran tetap dapat berubah apabila terjadi erupsi baru atau perubahan signifikan pada arah dan kecepatan angin di ketinggian kolom abu. (AS)