Dosen IPB University: Tak Hanya Kayu, Benda Berbahan Selulosa Juga Jadi Sasaran Rayap
Rayap menjadi salah satu ancaman tersembunyi yang dapat merusak bangunan dan berbagai barang di dalam rumah. Meski berukuran kecil dan sering tidak terlihat, serangan rayap dapat menyebabkan kerusakan serius pada perabot rumah, dokumen penting, bahkan struktur bangunan.
Dosen Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (FAHUTAN) IPB University, Dr Arinana, menjelaskan bahwa rayap tidak hanya menyerang kayu. Berbagai barang yang mengandung selulosa juga berpotensi menjadi sumber makanan bagi rayap, termasuk dokumen dan pakaian.
“Kalau dokumen memang berbahan kertas, tetapi baju juga berasal dari serat yang mengandung selulosa,” ujarnya dalam program IPB Pedia yang tayang di kanal YouTube IPB TV.
“Kalau kita punya koleksi baju yang disimpan di lemari dan tidak pernah dibuka, rayap bisa datang. Jadi intinya harus ada sirkulasi udara dan pencahayaan sehingga rayap merasa terganggu,” jelas dia.
Dr Arinana menerangkan, pencegahan serangan rayap dapat dimulai dengan menjaga kondisi rumah agar tidak lembap dan minim sirkulasi udara. Menurutnya, lemari atau ruang penyimpanan yang jarang dibuka menjadi lokasi yang disukai rayap.
“Jangan lupa secara reguler lemari itu dibuka. Jangan sampai dokumen sudah diletakkan di situ, setahun tidak dibuka. Kondisi seperti itu sangat disukai rayap,” tuturnya.
Wadah Plastik Bukan Jaminan
Dr Arinana juga meluruskan anggapan bahwa menyimpan dokumen dalam wadah plastik sudah cukup untuk melindunginya dari rayap. Menurutnya, meskipun rayap tidak memakan plastik, serangga tersebut dapat merusaknya untuk mencapai sumber makanan yang berada di dalamnya.
“Rayap itu kalau ada penghalang, dia akan merusak, tetapi tidak dimakan atau dikonsumsi. Plastik bisa dirusak agar dia mencapai isi di dalamnya,” katanya.
Karena itu, perlindungan terhadap rumah tidak cukup hanya mengandalkan material tertentu atau wadah penyimpanan. Pengendalian rayap perlu dilakukan secara menyeluruh, baik pada bangunan maupun isi rumah.
Menurutnya, pengendalian dapat dilakukan sejak tahap pembangunan melalui metode prakonstruksi maupun setelah bangunan berdiri melalui metode pascakonstruksi. Salah satu cara yang umum diterapkan adalah pemasangan chemical barrier di bawah bangunan agar rayap tidak dapat masuk. Selain itu, dapat digunakan physical barrier berupa fondasi yang lebih tebal untuk menghambat pergerakan rayap.
Dr Arinana mengingatkan masyarakat untuk segera melakukan pemeriksaan apabila menemukan tanda-tanda serangan rayap, seperti serbuk kayu, retakan, atau kayu yang terdengar kopong saat diketuk. Menurutnya, deteksi dan penanganan sejak dini jauh lebih efektif dibandingkan menangani kerusakan yang sudah parah. (Fj)
