Prof Kukuh Nirmala Kupas Strategi Pengelolaan Lingkungan untuk Masa Depan Budi Daya Udang Indonesia

Prof Kukuh Nirmala Kupas Strategi Pengelolaan Lingkungan untuk Masa Depan Budi Daya Udang Indonesia

prof-kukuh-nirmala-kupas-strategi-pengelolaan-lingkungan-untuk-masa-depan-budi-daya-udang-indonesia.jpg
Berita / Riset dan Kepakaran

Perubahan iklim yang ditandai cuaca ekstrem dan suhu panas berkepanjangan semakin menjadi ancaman serius bagi sektor perikanan budi daya di Indonesia. Bagi sektor budi daya udang vaname, kondisi lingkungan yang tidak stabil dinilai menjadi pemicu utama meningkatnya serangan penyakit dan kegagalan panen di berbagai wilayah tambak.

Hal tersebut disampaikan Prof Kukuh Nirmala, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University. Menurut dia, perubahan iklim menyebabkan dinamika kualitas air budi daya menjadi tidak stabil sehingga ekosistem tambak mudah terganggu. Kondisi tersebut justru menguntungkan mikroorganisme patogen yang merugikan udang.

“Udang membutuhkan kualitas air yang stabil dan baik agar energi lebih difokuskan untuk pertumbuhan, bukan untuk menghadapi stres lingkungan. Ketika lingkungan terganggu, daya tahan tubuh udang menurun dan penyakit menjadi lebih mudah menyerang,” jelasnya.

Prof Kukuh menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar budi daya udang nasional adalah tingginya serangan penyakit yang mencapai 40,31 persen. Kondisi tersebut menyebabkan tingkat kematian udang dapat mencapai 20 hingga 100 persen dan membuat produksi berfluktuasi.

Ia mencontohkan kasus di Kendal, Jawa Tengah, ketika serangan penyakit infectious myonecrosis virus (IMNV) pada tambak seluas 46,7 hektare menyebabkan penurunan produksi hingga 257 ton dengan total kerugian ekonomi mencapai Rp21,3 miliar.

Prof Kukuh memaparkan salah satu persoalan utama tambak modern saat ini adalah defisiensi mineral akibat penggunaan lapisan plastik high-density polyethylene (HDPE) pada tambak. Meski HDPE mampu mengurangi gas beracun H2S dari dasar tambak, penggunaannya juga memutus suplai mineral alami dari tanah ke air tambak. Akibatnya, keseimbangan ekosistem menjadi mudah terganggu dan udang lebih rentan terserang penyakit.

Sebagai solusi, Prof Kukuh mendorong penerapan pemupukan makro dan mikro mineral lengkap pada tambak udang. Berdasarkan uji lapangan di Pantura Jawa, metode tersebut terbukti mampu meningkatkan tingkat kelangsungan hidup udang hingga 42 persen lebih tinggi dibandingkan tambak tanpa pemupukan mineral lengkap. Produksi tambak juga meningkat dari 14,45 ton per hektare menjadi 20,976 ton per hektare.

“Selain meningkatkan produktivitas, pengelolaan lingkungan akuakultur yang baik juga penting untuk menjamin keamanan pangan. Pproduk budi daya harus dipastikan bebas dari residu berbahaya seperti logam berat Hg, Pb, dan Cd serta bebas kontaminasi bakteri patogen seperti E. coli dan Salmonella melalui pengelolaan kualitas air yang optimal,” ucap Prof Kukuh.

Ia juga menilai sektor akuakultur berkelanjutan memiliki potensi besar sebagai sumber ekonomi baru bagi generasi muda Indonesia, terutama di tengah bonus demografi dan meningkatnya kebutuhan lapangan kerja.

“Tambak udang satu hektare saja bisa membutuhkan sekitar empat tenaga kerja, belum termasuk sektor pendukung seperti pabrik pakan, hatchery, peralatan, obat-obatan, hingga pascapanen,” tuturnya.

Lebih lanjut, Prof Kukuh menekankan pentingnya penerapan konsep zero waste dan circular economy dalam budi daya udang nasional. Salah satunya melalui pemanfaatan limbah budi daya sebagai pupuk pertanian sehingga tidak mencemari lingkungan.

“Kasus utama yang dapat merusak lingkungan adalah buangan budi daya. Karena itu perlu ada kerja sama antara sektor budi daya dan pertanian agar limbah budi daya bisa dimanfaatkan menjadi pupuk yang bermanfaat,” katanya.

Prof Kukuh berharap pemerintah dapat mulai mengadopsi standardisasi pemupukan mineral dalam budi daya udang nasional sebagai bagian dari strategi meningkatkan produktivitas perikanan budi daya yang berkelanjutan, ramah lingkungan, sekaligus mendukung swasembada pangan nasional. (Lp)