Prof Edy Hartulistiyoso: Panas Sisa Industri Bisa Diubah Jadi Listrik dan Biochar

Prof Edy Hartulistiyoso: Panas Sisa Industri Bisa Diubah Jadi Listrik dan Biochar

prof-edy-hartulistiyoso-panas-sisa-industri-bisa-diubah-jadi-listrik-dan-biochar.jpg
Berita / Riset dan Kepakaran

Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan tekanan pengurangan emisi, panas sisa dari proses industri sering kali terbuang percuma. Padahal, panas tersebut dapat diolah kembali menjadi sumber energi dan produk bernilai tambah.

Guru Besar Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University, Prof Edy Hartulistiyoso, memperkenalkan konsep combined heat, power and product (CHPP) sebagai solusi efisiensi energi industri. Konsep ini memungkinkan panas dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik sekaligus produk bernilai tambah seperti biochar dan bio-oil. 

“Panas yang selama ini terbuang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan listrik maupun produk lain yang bernilai tambah,” ujarnya saat Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University, Sabtu (23/5) di Kampus IPB Dramaga.

Menurut Prof Edy, kebutuhan energi termal di Indonesia saat ini masih didominasi oleh batu bara dan gas alam, sementara potensi energi terbarukan sangat besar. Ia menegaskan bahwa pembahasan energi tidak hanya berkaitan dengan listrik, tetapi juga sistem termal yang digunakan dalam berbagai proses pengolahan produk pertanian dan perikanan, seperti pemanasan, pengeringan, dan pendinginan.

Dalam kebijakan energi nasional, sektor energi diarahkan pada pemanfaatan energi terbarukan sebesar 51 persen dan efisiensi energi sebesar 37 persen. Namun, pemanfaatan energi surya di Indonesia masih dinilai minim meskipun potensinya melimpah.

Selain CHPP, Prof Edy juga menjelaskan pemanfaatan teknologi organic rankine cycle (ORC) untuk mengolah sumber panas bersuhu rendah agar dapat dimanfaatkan kembali sebagai energi. Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi besar dari sumber daya agromaritim seperti biomassa, energi surya, panas bumi, angin, hingga energi laut yang dapat dikembangkan menjadi energi berkelanjutan.

Biomassa, misalnya, dapat diolah melalui pembakaran langsung, biogas, bioetanol, hingga pirolisis yang menghasilkan biochar dan bio-oil bernilai tambah.

Ia memaparkan, IPB University sendiri telah mengembangkan berbagai inovasi energi termal, salah satunya teknologi pengering surya tipe efek rumah kaca (ERK) sejak tahun 1980-an untuk membantu proses pengeringan hasil pertanian tanpa bergantung pada bahan bakar fosil.

Selain itu, energi surya juga dimanfaatkan untuk sistem pendinginan produk perikanan melalui listrik berbasis photovoltaic (PV) yang menggerakkan sistem pendingin kompresi uap, sehingga membantu nelayan menjaga kualitas hasil tangkapan lebih lama.

Isu energi dan perubahan iklim sendiri menjadi perhatian global, di mana pembakaran bahan bakar fosil masih menjadi sumber utama emisi karbon dioksida (CO₂) yang memicu efek rumah kaca dan peningkatan suhu bumi.

Melalui pengembangan teknologi seperti CHPP, Prof Edy mendorong pemanfaatan energi secara lebih efisien, tidak hanya untuk menekan emisi, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi baru dari energi yang selama ini terbuang. (Ez)