Gunakan Pendekatan Etologi, Teknologi LED Pakar IPB Bantu Nelayan Tangkap Ikan Lebih Efisien dan Selektif
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Mochammad Riyanto, mengungkapkan bahwa pemanfaatan lampu LED berbasis perilaku ikan mampu meningkatkan efisiensi penangkapan sekaligus menekan dampak ekologis. Hal tersebut ia sampaikan dalam Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University pada Sabtu (23/5).
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah penggunaan lampu LED hijau yang dipadukan dengan baterai air laut sebagai energi terbarukan. Teknologi ini telah menghasilkan dua paten dan terbukti memberikan kinerja optimal dari sisi produktivitas dan efisiensi. Bahkan, lampu LED hijau dapat menggantikan umpan alami pada komoditas seperti kakap merah dan kerapu.
Pada praktiknya, penggunaan lampu LED hijau pada jaring insang mampu menekan tangkapan penyu hingga 60 persen tanpa menurunkan hasil tangkapan utama. Sementara itu, lampu LED merah juga menunjukkan hasil signifikan, yakni mampu mengurangi tangkapan mimi laut hingga 63 persen dan menekan tangkapan hiu hingga 64 persen pada tahap awal.
Menurut Prof Riyanto, inovasi ini berangkat dari pendekatan etologi ikan, yaitu pemahaman terhadap perilaku ikan seperti respons terhadap cahaya, pola migrasi, dan kebiasaan makan.
“Pendekatan ini memungkinkan perencanaan alat tangkap yang lebih selektif untuk mengurangi tangkapan sampingan (bycatch),” ujarnya saat menyampaikan orasi ilmiah di Kampus IPB Dramaga.
Ia menilai, pendekatan berbasis perilaku ikan menjadi penting di tengah tekanan serius pada sektor perikanan tangkap Indonesia. Sebagian stok ikan telah berada pada kondisi pemanfaatan maksimal hingga over exploited, diperburuk oleh perubahan iklim, degradasi habitat, dan praktik penangkapan ilegal.
Selain teknologi pencahayaan, upaya peningkatan selektivitas juga dilakukan melalui pengembangan bycatch reduction devices (BRD), seperti turtle excluder devices (TED) pada perikanan pukat udang di Laut Arafura yang terbukti meningkatkan hasil tangkapan udang.
Di sisi lain, perikanan tangkap juga menghadapi ancaman alat tangkap hilang atau terbuang (abandoned, lost, and discarded fishing gear/ALDFG) yang menyumbang sekitar 10 persen sampah laut global dan menyebabkan kerugian ekonomi bagi nelayan, bahkan mencapai Rp 381 juta per tahun di Cilacap.
Untuk itu, Prof Riyanto mendorong penguatan regulasi, edukasi nelayan, serta inovasi alat tangkap ramah lingkungan, termasuk penggunaan material biodegradable dan penerapan ekonomi sirkular.
Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa masa depan perikanan harus bergerak menuju pendekatan yang lebih adaptif dan berbasis sains.
“Pengelolaan perikanan ke depan harus beralih dari pendekatan berbasis alat menuju berbasis perilaku spesies dan dampak ekologi,” tegasnya.
Pendekatan ini diharapkan tidak hanya menjaga keberlanjutan sumber daya laut, tetapi juga tetap memperhatikan kesejahteraan nelayan kecil. (dh)
