Dukung Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, Prof Widyastutik Tekankan Peran Strategis Sektor Jasa
Sektor jasa dinilai menjadi kunci percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia, termasuk untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional hingga delapan persen.
Hal itu ungkapkan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Prof Widyastutik pada saat pidato Orasi Ilmiah Guru Besar IPB, Sabtu (23/5) di Kampus IPB Dramaga.
Menurut hasil simulasi yang dipaparkannya, peningkatan integrasi jasa pada sektor industri dan pertanian dapat mendorong kenaikan produk domestik bruto (PDB) riil hingga 2,6 persen serta meningkatkan ekspor nasional.
“Sektor jasa Indonesia belum menjadi sektor unggulan dalam perekonomian global. Hal ini menunjukkan masih terbatasnya peran sektor jasa sebagai input bagi sektor lain,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sektor jasa perlu diperkuat melalui pendekatan servicification, yaitu integrasi layanan dalam proses produksi sektor lain seperti manufaktur, pertanian, dan agroindustri. Menurutnya, daya saing ekonomi global saat ini tidak lagi hanya ditentukan oleh produksi barang, tetapi juga kemampuan mengintegrasikan sektor jasa.
Prof Widyastutik mencontohkan integrasi tersebut dalam sektor pertanian modern, mulai dari riset dan pengembangan (research and development/RnD), uji laboratorium, sertifikasi mutu, teknologi smart farming, sensor tanah, irigasi otomatis, drone monitoring, jasa logistik, hingga distribusi digital.
“Dalam global value chain, aktivitas jasa seperti branding, desain, distribusi, pemasaran, dan layanan purnajual justru memiliki nilai tambah yang lebih tinggi dibandingkan manufaktur,” jelasnya.
Secara nasional, kontribusi sektor jasa terhadap PDB Indonesia mencapai 62,26 persen pada 2023. Namun, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan beberapa negara Asia Tenggara lainnya, yang menunjukkan bahwa potensi sektor ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Dalam paparannya, ia juga mengidentifikasi sejumlah tantangan utama, seperti dominasi usaha informal berskala kecil, keterbatasan modal, serta akses pembiayaan formal yang belum optimal.
Untuk itu, Prof Widyastutik menawarkan enam agenda prioritas, yakni penguatan regulasi adaptif melalui harmonisasi aturan dan penyederhanaan perizinan; penyusunan roadmap lintas sektor terintegrasi; peningkatan daya saing sumber daya manusia melalui sertifikasi; penguatan pelaku usaha jasa dan integrasi UMKM dalam rantai nilai global; peningkatan kesiapan menghadapi perjanjian perdagangan internasional; serta integrasi sektor jasa dalam perencanaan pembangunan nasional.
“Harapannya, sektor jasa tidak lagi menjadi sektor pendukung, tetapi menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tuturnya. (Fj)
