ARM HA-IPB University Buat Pelatihan 10 Langkah Belajar Mencegah dan Menangani Kekerasan

ARM HA-IPB University Buat Pelatihan 10 Langkah Belajar Mencegah dan Menangani Kekerasan

arm-ha-ipb-university-buat-pelatihan-10-langkah-belajar-mencegah-dan-menangani-kekerasan.jpg
Berita / Pengabdian Masyarakat

Di tengah maraknya isu kekerasan, termasuk kasus kekerasan seksual di masyarakat dan perguruan tinggi belakangan ini, Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni (ARM HA) IPB University menggagas pelatihan singkat tentang penyadaran, pencegahan, dan penanganan kekerasan bertajuk “10 Langkah Menciptakan Lingkungan Aman dari Kekerasan” pada Sabtu (9/5) di Gedung Alumni IPB, Baranangsiang, Kota Bogor.

Pelatihan yang menjadi bagian dari Kelas Belajar ARM HA-IPB ini diikuti 25 orang pengurus dan relawan ARM HA-IPB serta Relawan Mahasiswa IPB (REMI) Badan Eksekutif Mahasiswa-Keluarga Mahasiswa (BEM KM). 

“Pelatihan ini memperkenalkan kepada peserta konsep, definisi, dan jenis-jenis kekerasan yang terjadi di sekitar masyarakat, khususnya kekerasan antarindividu (interpersonal violence),” ujar Ketua Umum ARM HA-IPB, Ir Ahmad Husein, MSi, yang bertindak sebagai fasilitator pelatihan tersebut. Husein merupakan lulusan angkatan pertama “Global Trainer of Trainers on Protection, Gender and Inclusion (PGI) in Emergencies” yang diadakan Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) di Istanbul, Turkiye, 2018.

Ia menambahkan, “Banyak yang belum menyadari, kekerasan dapat terjadi di mana saja baik di lingkungan rumah, tempat kerja, sekolah dan kampus, ruang publik, hingga di area bencana.” 

Pendekatan 10 Langkah pertama kali diperkenalkan oleh Palang Merah Kanada (Canadian Red Cross) dan diintroduksi ke Indonesia melalui Palang Merah Indonesia (PMI) mulai 2011. Pendekatan ini dinilai sistematis dan memberikan panduan rinci bagi organisasi dan kelompok masyarakat dalam memahami konsep kekerasan, memetakan masalah, membentuk tim pencegahan, mekanisme penanganan, hingga cara mempertahankan lingkungan yang  bebas dari kekerasan. 

Pelatihan berlangsung dengan kombinasi presentasi, diskusi, kuis, kerja kelompok, hingga permainan edukatif yang memungkinkan peserta memahami lebih dalam urgensi pencegahan dan penanganan kekerasan yang terjadi. Lewat permainan dan diskusi, peserta juga memahami dampak psikologis yang penyintas kekerasan alami. 

“Pelatihan ini membuat saya sadar bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk fisik melainkan juga dapat berupa ucapan, tekanan, intimidasi, dan pelecehan verbal,” ujar Rudi Hartono, salah satu peserta. Bendahara Umum ARM HA-IPB ini berkomitmen, dalam 6 bulan ke depan ia ingin menjadi bagian dari orang-orang yang menjaga, mendengar, menghormati, dan melindungi sesama dari kekerasan.

M Zaki Al Ghifari, relawan REMI Angkatan 62 dari Fakultas Kehutanan dan Lingkungan, mengatakan pelatihan ini amat relevan di tengah kasus yang tengah marak terjadi. “Saya belum pernah mengalami sendiri, tetapi pernah menyaksikan tindak kekerasan itu terjadi di sekitar saya,” ungkap Zaki. Yang paling berkesan bagi Zaki adalah saat sesi bermain peran  (role play), ketika semua peserta menyaksikan visualisasi dampak psikologis dan trauma korban atau penyintas kekerasan. “Saya akan membagikan ilmu dan pengalaman pelatihan ini ke lingkungan terdekat,” katanya. 

Sementara itu Rashaqa Dildara Syahrul, relawan REMI Angkatan 62 dari Sekolah Bisnis, mengaku makin paham cara mengenali, menghindari, dan mengatasi tindak kekerasan yang terjadi di sekitarnya. Ia amat tertarik dengan konsep penyaksi (bystander) dalam pendekatan 10 Langkah, yang amat penting untuk memutus tindak kekerasan. “Pesan saya kepada rekan-rekan mahasiswa IPB, kekerasan harus dihilangkan. Para penyaksi harus berani maju bersikap dan bertindak mendukung penyintas,” tukasnya. 

Sebagai salah satu tindak lanjut pelatihan, ARM HA-IPB berencana membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan. Terkait program Kelas Belajar, Ketua Bidang Manajemen Relawan, Ir Agus Susilo JP menyebutkan, “Kelas ini merupakan edisi perdana dan kita menyiapkan pelatihan berikutnya dengan topik-topik yang relevan dengan kerja kemanusiaan relawan atau isu publik yang tengah marak untuk dapat direspons.” (*/Rz)