IPB University Bantu Petani Mesuji Analisis Kondisi Tanaman dan Optimalisasi Produksi Pertanian dengan Drone

IPB University Bantu Petani Mesuji Analisis Kondisi Tanaman dan Optimalisasi Produksi Pertanian dengan Drone

ipb-university-bantu-petani-mesuji-analisis-kondisi-tanaman-dan-optimalisasi-produksi-pertanian-dengan-drone
Berita / Pengabdian Masyarakat

Tim IPB University melakukan pengambilan data menggunakan drone untuk melihat kondisi lahan sawah secara lebih detail hingga pola kawasan pertanian dapat dipetakan dan dianalisis.

Hamparan sawah pasang surut di Desa Tirtalaga, Kabupaten Mesuji, menjadi lokasi penelitian yang dilakukan oleh tim dari IPB University bersama Universitas Muhammadiyah (UM) Palembang dan Pemerintah Kabupaten Mesuji.

Penelitian berjudul “Perancangan Sistem Informasi Geografis Pertanian Desa Berbasis Participatory Mapping dan Kecerdasan Buatan untuk Pengembangan Ekonomi Kab. Mesuji, Lampung” ini melibatkan Dr Supriyanto, dan Dr Mohamad Solahudin dari IPB University, Dr Jun Harbi dari UM Palembang, serta Dr Untung dari Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Mesuji.

Dr Supriyanto mengatakan, “Penggunaan drone menjadi salah satu cara untuk menganalisis kondisi tanaman secara akurat dan detail dalam rangka optimalisasi produksi ke depan.” 

“Dengan drone, kita bisa melihat kondisi lahan dari atas secara lebih utuh. Kita bisa mendapatkan data mengenai hamparan sawah, kanal, dan kondisi di sekitarnya. Data ini nantinya bisa kita gunakan untuk memahami bagaimana karakteristik lahan pasang surut di Mesuji,” lanjutnya.

Dr Untung menambahkan, “Data tersebut tidak hanya penting untuk kepentingan penelitian. Jika dikembangkan lebih lanjut, informasi spasial lahan dapat membantu pemerintah dalam merencanakan pengembangan pertanian dan pemanfaatan lahan di Mesuji.”

“Harapannya, data ini tidak berhenti sebagai data penelitian. Kalau bisa dikembangkan menjadi informasi yang dapat digunakan pemerintah dan masyarakat, tentu akan lebih bermanfaat. Perencanaan pertanian yang didukung data akan membantu kita melihat potensi ekonomi Mesuji dengan lebih baik,” harapnya.

Di sela pengambilan data drone, tim juga berdiskusi dengan Kepala Desa Tirtalaga, Sikun. Pertemuan tersebut menjadi bagian penting karena kondisi lahan pasang surut tidak cukup dipahami hanya melalui data dan peta.

Sikun merupakan transmigran yang telah lama tinggal di Desa Tirtalaga. Ia menceritakan bagaimana masyarakat setempat menyesuaikan kegiatan pertanian dengan kondisi air yang berubah sepanjang musim.

Persawahan di wilayah tersebut dikelilingi kanal yang terhubung dengan Sungai Mesuji. Saat musim tanam (MT) 1 dan MT 2, air masih dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budi daya. Namun, ketika memasuki MT 3, kondisi air mulai payau sehingga petani menghadapi kesulitan untuk melanjutkan budi daya.

“Kalau MT 1 dan MT 2, air masih bisa digunakan untuk bertani, tetapi menjelang MT 3, air mulai payau. Jadi memang kita harus melihat kondisi air dan menyesuaikan kegiatan pertanian,” kata Sikun.

Menurut dia, masyarakat sebenarnya sudah memiliki pengalaman dalam menghadapi kondisi tersebut. Namun, dukungan teknologi dan penelitian diharapkan dapat membantu petani memahami kondisi lahan dengan lebih baik.

“Kami berharap penelitian ini bisa membantu masyarakat. Pertanian di sini memang berbeda karena tergantung kondisi air. Kalau kita bisa memahami lahannya dengan lebih baik, mudah-mudahan pertanian di sini bisa terus berjalan dan lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Bagi tim peneliti, pengalaman masyarakat seperti yang disampaikan Sikun menjadi pelengkap penting bagi data yang diperoleh melalui teknologi drone.

Teknologi memberikan gambaran dari udara, sementara masyarakat memberikan cerita dan pengalaman tentang apa yang terjadi di lapangan. Keduanya kemudian dipadukan untuk memahami persoalan pertanian pasang surut di Mesuji secara lebih menyeluruh.

Bagi Mesuji, sawah pasang surut bukan sekadar hamparan lahan. Di dalamnya ada kehidupan masyarakat, pengalaman transmigrasi, sumber penghidupan, sekaligus potensi ekonomi yang perlu dikelola secara berkelanjutan. (*/Rz)