Racik Kacang Sacha Inchi jadi Bahan Kosmetik, Karya Peneliti IPB University Tembus 117 Inovasi Indonesia 2025
Inovasi “Etil Ester Sacha Inchi” karya peneliti IPB University terpilih sebagai bagian dari 117 Inovasi Indonesia 2025 oleh Business Innovation Center (BIC). Inovasi ini dinilai memiliki potensi besar sebagai bahan baku kosmetik berbasis lokal yang lebih ramah kulit, sekaligus mendukung kemandirian industri nasional.
Inovator sekaligus dosen Teknologi Industri Pertanian IPB University, Dr Dwi Setyaningsih, menjelaskan bahwa sacha inchi merupakan tanaman asal Amerika Selatan yang kini adaptif di Indonesia.
“Tanaman ini mudah tumbuh di daerah tropis, sehingga berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai komoditas lokal,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, minyak sacha inchi memiliki kandungan asam lemak esensial yang tinggi, terutama omega-3, omega-6, dan omega-9. Kandungan omega-3 bahkan mencapai sekitar 50 persen, menjadikannya salah satu sumber nabati unggulan. Senyawa ini berperan dalam menjaga kesehatan kulit, seperti melembapkan, meningkatkan elastisitas, serta membantu pembentukan kolagen.
Lebih lanjut, Dr Dwi menjelaskan bahwa inovasi yang dikembangkan adalah mengubah minyak menjadi bentuk etil ester untuk meningkatkan performa sebagai bahan kosmetik.
Etil ester punya banyak keunggulan. ”Etil ester dibuat menggunakan etanol, bersifat lebih aman karena tidak toksik. Jika dibandingkan dengan metil ester yang menggunakan metanol, pendekatan ini lebih sesuai untuk produk yang diaplikasikan langsung ke kulit,” urainya.
“Keunggulan lainnya, etil ester ini lebih encer dibandingkan minyak, sehingga lebih mudah meresap ke kulit dan tidak memberikan kesan berminyak,” imbuh Dr Dwi.
Selain teksturnya yang lebih ringan, etil ester juga memiliki tingkat kemurnian yang lebih tinggi karena melalui proses pemisahan dari senyawa pengotor seperti gum dan gliserol. Dengan demikian, bahan ini menjadi lebih stabil dan nyaman digunakan dalam formulasi kosmetik seperti serum dan krim harian.
Tidak hanya itu, kandungan antioksidan alami seperti tokoferol dan tokotrienol yang tetap terjaga dalam minyak sacha inchi turut memberikan perlindungan terhadap oksidasi, sehingga meningkatkan stabilitas produk kosmetik.
Kombinasi antara asam lemak tidak jenuh dan antioksidan ini menjadikan etil ester minyak sacha inchi sebagai bahan aktif yang potensial untuk produk perawatan kulit berbasis natural.
Meski demikian, Dr Dwi menegaskan bahwa pemanfaatan etil ester saat ini difokuskan pada sektor kosmetik, sementara untuk pangan masih menggunakan bentuk minyak alami. Ia juga menyebutkan bahwa peluang pasar produk ini cukup besar, seiring meningkatnya tren kosmetik natural di tingkat global.
“Inovasi ini diharapkan dapat menggantikan ketergantungan pada bahan impor seperti olive oil, sekaligus memberdayakan petani lokal,” ujarnya. (dr)
