Diskusi Proteksi Tanaman IPB University: Banyak Masyarakat Memakai Furniture Instan yang Cepat Rusak
Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, IPB University menggelar Kuliah Umum Hama Gudang dan Permukiman (PTN 311), Rabu (20/11) di Kampus IPB Dramaga. Kuliah yang bertema ‘Operasional Pelaksanaan Jasa Pest Control dan Upaya dalam Membangun Karier di Perusahaan Pest Control’ ini menghadirkan Radhy Alfitra, SP, Chief Operating Officer Jawa Barat – Sumatera PT Etos Indonusa.
Hampir setiap tahun, mata kuliah yang diampu Dr. Idham Sakti Harahap, Dr. Swastiko Priyambodo, Lia Nurulalia, MSi, dan Nadzirum Mubin, M.Si ini selalu mengundang narasumber dari perusahaan untuk memberikan materi pembekalan kepada para mahasiswa yang mengambil mata kuliah tersebut.
“Keberadaan perusahaan pest control berawal dari adanya keresahan masyarakat terkait kesehatan, kerusakan pada furniture, gangguan lingkungan, infestasi pada makanan, dan sebagainya,” tutur Radhy.
Radhy juga menambahkan, keresahan masyarakat yang hampir setiap tahun dialaminya karena adanya serangan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti atau Ae. Albopictus. Hal itu menjadi permasalahan serius yang sangat perlu dibereskan. Tidak hanya nyamuk penyebab DBD, nyamuk rumah dengan jenis Culex sp juga dapat menjadi penular penyakit kaki gajah, chikungunya dan lain-lain sehingga perlu adanya pengelolaan dan penganganan yang serius.
Randy juga menyinggung permasalahan yang sering dialami permukiman. Yaitu kerusakan perumahan dan furniture di perkotaan. “Perumahan dan furniture sekarang banyak yang serba instan. Artinya banyak yang sudah menjadi barang jadi dalam waktu yang relatif singkat tanpa melihat keamanan dari serangan hama pengganggu seperti rayap. Rumah yang sekarang dibangun dalam waktu singkat membuat orang jarang berpikir untuk berinvestasi dalam pengelolaan terhadap serangan hama. Padahal ketika adanya serangan hama seperti rayap dapat menyebabkan investasi awal yang cukup besar tersebut dapat hilang dalam waktu yang cukup singkat akibat serangan rayap,” papar alumnus IPB University ini.
Menurutnya, pengelolaan hama bangunan seperti rayap perlu memerhatikan aspek lingkungan. Karena sekarang aspek lingkungan juga menjadi konsen serius oleh para penerima jasa pest control. Radhy menuturkan bahwa semua pestisida yang digunakan sama, tapi yang membedakan perusahaan pest control satu dengan yang lainnya adalah man behind the gun yaitu siapa di balik senjata yang digunakan. Radhy juga menambahkan, peranan perusahaan pest control hanya 10 persen. Sisanya partisipasi aktif dari klien. “Karena setiap harinya klien-lah yang selalu beraktivitas dan dapat melakukan pengelolaan yang menjadi sumber makanan atau sumber sarang untuk berkembang biak dari hama gudang maupun permukiman,” paparnya. (**/ris)
