Melalui ICSHA 2026, IPB University Tingkatkan Inovasi dan Daya Saing Global Rempah Indonesia
IPB University memperkuat perannya dalam pengembangan rempah, herbal, dan tanaman aromatik melalui penyelenggaraan International Conference on Spices, Herbs, and Aromatics (ICSHA) 2026.
Konferensi internasional yang digelar di IPB International Convention Center (IICC), Bogor (23/6) ini menjadi wadah kolaborasi peneliti, akademisi, industri, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara untuk mendorong inovasi, keberlanjutan, dan daya saing global sektor rempah.
Ketua Pelaksana ICSHA 2026, Dr Rudi Heryanto, menyampaikan bahwa konferensi yang diselenggarakan secara luring dan daring tersebut diikuti lebih dari 150 peserta dari berbagai negara dan latar belakang profesi.
Forum ini menghadirkan pembicara utama dari India, Thailand, Malaysia, dan Indonesia, serta puluhan presentasi ilmiah yang membahas perkembangan terkini di bidang rempah dan herbal.
“Kami senang dan terhormat dapat mempertemukan para peneliti, akademisi, industri, dan pemangku kepentingan lainnya untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan keahlian dalam pengembangan rempah, herbal, dan aromatik,” ujar Dr Rudi.
Ia berharap konferensi dan rangkaian lokakarya yang telah diselenggarakan sebelumnya dapat memperkuat kapasitas riset, kolaborasi, serta inovasi di bidang tersebut.
Sementara itu, Kepala Lembaga Riset Internasional Pangan, Gizi, Kesehatan, dan Halal IPB University, Prof Erika B Laconi, menegaskan bahwa tema ICSHA 2026 sangat relevan bagi Indonesia sebagai salah satu pusat biodiversitas tropis dunia.
Ia menjelaskan bahwa rempah, herbal, dan aromatik tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga berperan penting dalam sejarah, budaya, kesehatan, diplomasi, dan pembangunan berkelanjutan.
“Warisan rempah yang dimiliki Indonesia harus ditransformasikan menjadi kekuatan ilmiah, daya saing industri, dan pembangunan berkelanjutan. Karena itu, kolaborasi antara peneliti, industri, pemerintah, dan masyarakat menjadi sangat penting,” ungkap Prof Erika.
Ia juga menambahkan, konferensi ini juga mendukung agenda nasional untuk memperkuat posisi rempah Indonesia di pasar global melalui riset, standardisasi mutu, inovasi produk, dan kerja sama internasional.
Sementara itu, Chairperson ISO/TC 34 Spices and Culinary Herbs dari India, Dr A B Rema Shree, menjelaskan bahwa rempah-rempah telah menjadi bagian utama dari peradaban manusia selama ribuan tahun.
Selain berfungsi sebagai penyedap makanan, rempah juga digunakan dalam pengobatan tradisional, ritual budaya, hingga perdagangan global yang membentuk sejarah hubungan antarbangsa.
“Saat ini, dunia tidak lagi memandang rempah hanya sebagai agen pemberi rasa, tetapi juga sebagai sumber senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan menjadi pangan fungsional, nutraseutikal, produk kesehatan, dan bahan baku industri farmasi,” ujarnya.
Dr Shree menjelaskan bahwa perkembangan riset modern telah membuka peluang untuk memvalidasi pengetahuan tradisional melalui pendekatan ilmiah, termasuk metabolomik, bioteknologi, dan eksplorasi senyawa alami. (dr)
