Gunakan Teknologi eDNA, FPIK IPB Ungkap ‘Hidden Biodiversity’ di Kawasan Restorasi Biorock Pemuteran Bali

Gunakan Teknologi eDNA, FPIK IPB Ungkap ‘Hidden Biodiversity’ di Kawasan Restorasi Biorock Pemuteran Bali

gunakan-teknologi-edna-fpik-ipb-ungkap-hidden-biodiversity-di-kawasan-restorasi-biorock-pemuteran-bali.jpg(1)
Berita

Tim peneliti Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University memanfaatkan teknologi mutakhir environmental DNA (eDNA) untuk memetakan dan mengungkapkan keanekaragaman hayati (biodiversitas) di kawasan restorasi terumbu karang berbasis teknologi Biorock di Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali. 

Langkah maju inovatif dalam dunia konservasi laut global ini diharapkan dapat memberikan data ekologis yang jauh lebih akurat dan komprehensif terkait dampak positif restorasi karang terhadap ekosistem sekitar.

Desa Pemuteran sendiri telah lama dikenal di kancah internasional sebagai salah satu situs restorasi terumbu karang terbesar dan paling sukses di dunia menggunakan metode Biorock. 

Sebelum direplikasi di Bali untuk mendapatkan gambaran ekologis yang lebih utuh, komparatif, dan mendalam, metode pemantauan berbasis genetik ini telah lebih dulu sukses diterapkan oleh FPIK IPB untuk mendeteksi keanekaragaman spesies tersembunyi di daerah restorasi terumbu karang Pulau Sangiang, Banten.

Pakar Biologi Laut IPB University, Dr Beginer Subhan, menjelaskan bahwa penggunaan eDNA membuka mata para peneliti terhadap kekayaan laut yang selama ini luput dari metode pengamatan visual biasa karena banyak kehidupan jauh di dalam struktur karang yang belum terdata dengan baik.

“Dengan teknologi eDNA, kita bisa mengungkap lebih banyak keanekaragaman hayati tersembunyi di masing-masing mikrohabitat di sekitar daerah restorasi Biorock,” ujarnya.

Teknologi DNA lingkungan ini bekerja dengan mengambil sampel DNA yang dilepaskan oleh organisme ke air laut melalui lendir, kotoran, urine, atau jaringan kulit yang luruh. Metode ini memiliki keunggulan noninvasif dan ramah lingkungan karena peneliti tidak perlu menangkap atau mengganggu biota. 

Melalui proses analisis laboratorium Next-Generation Sequencing, eDNA memiliki akurasi dan sensitivitas tinggi untuk mengidentifikasi spesies langka, dilindungi, maupun biota nokturnal yang bersembunyi di celah sempit struktur Biorock yang sulit dipantau manual oleh penyelam.

Inovasi ini mendapat dukungan dari Tom Goreau, Presiden Global Coral Reef Alliance (GCRA) sekaligus penemu teknologi Biorock. Menurutnya, integrasi antara pemulihan fisik Biorock dan pemantauan molekuler eDNA akan menjadi standar baru dalam mengevaluasi keberhasilan restorasi terumbu karang di tingkat global.

Sementara itu, Komang Astika dari Yayasan Karang Lestari/Biorock Indonesia menegaskan pentingnya dampak kolaborasi ini bagi keberlanjutan lingkungan setempat. Ia berharap, data yang dihasilkan oleh IPB University dapat menarik perhatian dunia internasional untuk lebih mendalami ekosistem Pemuteran.

“Kami berharap lebih banyak lagi peneliti, baik dari dalam maupun luar negeri, yang dapat datang dan meneliti di Pemuteran. Kolaborasi ilmiah seperti ini sangat kami butuhkan untuk memastikan keberlanjutan dan kesehatan ekosistem laut Bali di masa depan,” pungkas Komang. (*/Rz)