Mahasiswa IPB Ciptakan Inovasi Teknologi E-Colistrik dari Limbah Tepung

Mahasiswa IPB Ciptakan Inovasi Teknologi E-Colistrik dari Limbah Tepung

mahasiswa-ipb-ciptakan-inovasi-teknologi-e-colistrik-dari-limbah-tepung-news
Prestasi

Kebutuhan listrik nasional rata-rata tumbuh 8-9 persen per tahun. Angka ini menunjukkan bahwa setiap tahunnya diperlukan tambahan sekitar 5.700 MW kapasitas pembangkit listrik baru. Otomatis, eksplorasi sumberdaya fosil akan dilakukan secara besar-besaran untuk dapat memenuhi konsumsi listrik yang ada di Indonesia. Kondisi ini mengakibatkan terjadinya penurunan jumlah cadangan bahan bakar yang memicu terjadinya kenaikan harga dan terjadinya krisis energi, khususnya listrik.

Inilah yang mendasari Nur Badri, mahasiswa Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan (Fahutan) Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk memanfaatkan limbah tepung sebagai inovasi teknologi dalam memenuhi kebutuhan listrik dengan memanfaatkan sistem Microbial Fuel Cell (MFC). Terlebih lagi industri tepung merupakan salah satu sektor penyumbang limbah cair terbanyak di Indonesia. Bahkan, setiap satu kuintal bahan tepung akan menghasilkan limbah sebanyak 1,5-2 meter kubik yang dapat menimbulkan masalah terhadap lingkungan sekitar.

Berkat inovasinya tersebut, Badri meraih juara satu pada  lomba Semarak Essay Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Swadaya Gunung Jati (Unswagati) Cirebon pada 12 Juli 2017. “Saya tidak menyangka mendapat juara 1, mengingat gagasan dan sikap presentasi dari masing-masing finalis lainnya yang sangat luar biasa menginspirasi. Alhamdulillah sangat bersyukur bisa membawa nama baik IPB,” ujar  peraih Gold Medal & Special Award dari Toronto Research Institute Canada 13 Mei lalu ini pada ajang Fast Cor Home merupakan media rehabilitasi terumbu karang yang dapat mengefektifkan  pertumbuhan terumbu karang.

Limbah tepung yang dihasilkan akan dijadikan sebagai E-Colistrik sebagai  inovasi sumber energi listrik terbarukan. E-Colistrik ini diintegrasikan dengan teknologi Microbial Fuel Cell sebagai katalisator energi dengan memanfaatkan bakteri Escherichia coli yang merupakan suatu rangkaian sistem yang dapat menghasilkan listrik dari komponen organik melalui katabolisme pada microbial.  “Inovasi E-Colistrik ini mudah dirakit karena sistemnya terintegrasi sangat sederhana. Selain itu juga solutif, karena mampu menjawab tantangan energi saat ini apalagi dalam mendukung inovasi energi terbarukan,” tuturnya.

Badri mendesain E-Colistrik yang mengolah limbah tepung tersebut dengan menggunakan model sistem dual-chamber yang terdiri dari kompartemen katoda dan anoda.  E-Colistrik diisi dengan limbah cair yang dialirkan langsung dari pabrik industri tepung yang mengandung molekul biodegradabel dan dilakukan penambahan mikroba Escherichia coli sebagai katalisator. Dalam inovasi tersebut Badri menjelaskan bagaimana akhirnya bakteri Escherichia coli yang diintegrasikan dengan tepung menghasilkan elektron, proton, dan CO2.

E-Colistrik dari limbah tepung ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sektor industri yang mandiri energi. “Karena E-Colistrik dengan substrat limbah cair industri tepung menghasilkan energi listrik yang besar, harapannya juga ada pihak yang membantu dalam merealisasikan gagasan ini,” tutupnya.(SM/NM)