IPB Pasok Rumput Gajah di Sukabumi

IPB Pasok Rumput Gajah di Sukabumi

Berita
Institut Pertanian Bogor (IPB) lakukan panen raya rumput gajah di Desa Nanggerang, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (25/1). Program ini merupakan model pengembangan rumput gajah di lahan non produktif  bekerjasama dengan masyarakat. Dalam pelaksanaannya IPB menggandeng Qiara Institut, Lembaga Swadaya Masyarakat dalam bidang pertanian sebagai fasilitator dan pendamping di lapangan.
 
“Sejauh ini sudah dikembangkan tiga model pengembangan di tiga desa yaitu di Desa Cileksa, Desa Taman Sari, Kabupaten Bogor dan Desa Nanggerang, Kabupaten Sukabumi dengan luas total sekitar 10 hektar,” ujar Direktur Riset dan Kajian Strategis Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Ir. Dodik Nurrokhmat.
 
Kegiatan ini untuk menjaga pasokan hijauan pakan ternak (HPT)  yang saat ini masih mengandalkan rumput di alam yang dikumpulkan karyawan peternakan atau membeli dari pemasok. Ini menyebabkan jumlah pasokan rumput tidak teratur. Terlebih lagi pada musim kemarau, jumlah pasokan rumput makin sedikit. Ini menjadi salah satu alasan para peternak sapi tidak berani meningkatkan jumlah sapi peliharaannya.
 
Hijauan pakan ternak rumput gajah jenis cvmott (Pennisetum purerium) atau lebih dikenal dengan “rumput odot”  ini yang menjadi pilihan dikarenakan  rumput ini memiliki produktivitas tinggi. Rumput ini bisa  mencapai berat lebih dari 60 ton per hektar per dua bulan  bulan dan hampir semua bagian bisa dimanfaatkan. Disamping itu, berdasarkan hasil uji analisis laboratorium tentang kandungan nutrisi, rumput odot juga memiliki persentase protein tinggi yaitu sekitar 17-19 persen dan total Digestable Nutrient  64,31 persen dari bahan kering serta kandungan lignin 2,5 persen dari bahan kering.  Dari uji pasar juga menunjukkan respon pasar  cukup menjanjikan. Dr. Dodik mengatakan  hasil panen rumput gajah atau rumput odot ini juga akan dipasarkan ke PT. Fajar Taurus dengan volume pengiriman sekitar lima ton per hari. Ini salah satu solusi pemasarannya. 
 
Menurutnya, model yang telah dibangun IPB ini dengan menggunakan strategi yaitu: Pertama, pemanfaatan lahan non produktif.  Kedua, menggunakan sistem agroforestry atau tumpang sari dalam rangka optimalisasi penggunaan lahan. Ketiga, melibatkan masyarakat baik sebagai penyedia lahan, teknis budidaya dan pemanenan. Keempat, layak dari segi bisnis sehingga dapat berkelanjutan. Kelima, memiliki kepastian pasar.
 
Dr. Dodik berharap model pengembangan rumput odot ini bisa diduplikasi di lokasi lain sehingga dapat memberikan peran nyata bagi peningkatan ketersediaan hijauan pakan ternak dengan melibatkan berbagai pihak terkait. “Kegiatan ini juga diharapkan dapat mendukung dan memberikan manfaat nyata bagi kedaulatan daging di Indonesia serta menciptakan lapangan kerja dan menambah income bagi masyarakat,”tandasnya. (ddh)