Fakultas Kehutanan IPB Gelar Training Course on REDD+

Fakultas Kehutanan IPB Gelar Training Course on REDD+

Berita

Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (Fahutan-IPB) bersama Japan International Forestry Promotion and Cooperation Center (Jifpro) dan Forestry and Forest Product Research Institute (FFPRI) menyelenggarakan Training Course on Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) di Bogor dan Sukabumi 7-12 Januari 2014, Selasa (7/1). Hari pertama kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Sidang Sylva,  Kampus IPB Dramaga. Kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai institusi dan perguruan tinggi di Jepang dan Indonesia.

 
Kegiatan ini dibuka Dekan Fakultas Kehutanan IPB, Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Agr. “Permintaan ini datang dari FFPRI Jepang, jadi mereka ingin tenaga-tenaga terlatih mereka dilatih tentang  REDD+ di Indonesia. Atas permintaan itu, kami penuhi. Alhamdulillah dari Jepang  hadir sekitar 16 orang peserta dan dari Indonesia sekitar 22 orang”. Sementara instrukturnya dari Jepang dan Indonesia. Lebih lanjut Prof.  Bambang  mengatakan, secara umum peserta mendapat penjelasan. Misalnya bagaimana menghitung karbon stock dan bagaimana cara benar mengkonservasi. “Jadi tidak semata-mata menghitung karbon dan mem-balancing, tetapi juga memelihara hutan dan dikaitkan dengan kebijakan yang ada di Indonesia.”
 
Dr. Mitsuo Matsumoto, Director REDD Research and Development Center, FFPRI menyatakan, “REDD+ merupakan aktivitas pengurangan emisi dari deforestasi dan kerusakan hutan serta peran konservasi, pengelolaan hutan secara lestari dan peningkatan cadangan karbon hutan di negara-negara berkembang.” Aktivitas REDD+ meliputi lima hal yakni mengurangi emisi dari deforestasi, mengurangi emisi dari degradasi hutan, konservasi stok karbon hutan, pengelolaan hutan secara berkelanjutan dan meningkatkan stok karbon hutan. “Sekitar 20 persen emisi karbon dari deforestasi dan kerusakan hutan. REDD+ memberikan insentif (kompensasi ekonomi) untuk pengurangan emisi. Hal ini juga efektif untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan ekonomi masyarakat setempat,” tambah Dr. Mitsuo Matsumoto. Penutupan kegiatan ini diselenggarakan di Gunung Walat. (RF)