Pakar IPB University: Penambangan Pasir Laut Berisiko Ganggu Ekosistem Terumbu Karang dan Kerapu Sunu

Pakar IPB University: Penambangan Pasir Laut Berisiko Ganggu Ekosistem Terumbu Karang dan Kerapu Sunu

pakar-ipb-university-penambangan-pasir-laut-berisiko-ganggu-ekosistem-terumbu-karang-dan-kerapu-sunu
Foto: Calistemon melalui Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0).
Berita / Riset dan Kepakaran

Aktivitas penambangan pasir laut di sekitar Pulau Numbing, Kepulauan Riau, perlu menjadi perhatian dari perspektif konservasi karena pengerukan dasar perairan berpotensi meningkatkan kekeruhan dan mengganggu ekosistem terumbu karang.

Pakar biologi laut sekaligus dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, Dr Meutia Samira Ismet, menjelaskan bahwa dampak penambangan pasir laut tidak hanya terjadi di lokasi pengerukan, tetapi juga berpotensi memengaruhi ekosistem pesisir di sekitarnya.

“Dengan adanya pengerukan, tingkat partikel tersuspensi akan meningkat dan menyebabkan kekeruhan perairan. Ini tentu dapat berdampak terhadap keberlangsungan ekosistem pesisir, terutama terumbu karang dan lamun,” jelas Dr Meutia.

Dari Terumbu hingga Kerapu Sunu
Ia mengatakan, meningkatnya kekeruhan dapat menghambat penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan. Kondisi ini berpotensi mengganggu organisme yang melakukan fotosintesis, termasuk alga Zooxanthellae yang memiliki hubungan simbiosis dengan karang. 

Pada saat yang sama, pasir dan debu yang tersuspensi dapat menutupi polip karang sehingga menghambat kehidupan dan pertumbuhannya. Gangguan terhadap terumbu karang ini dapat menimbulkan efek domino terhadap biota lain. 

“Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai organisme laut yang saling berinteraksi dalam suatu ekosistem. Ketika kualitas habitat menurun, keanekaragaman dan kelimpahan organisme yang bergantung pada ekosistem tersebut juga berpotensi mengalami penurunan,” ujarnya.

Dr Meutia menerangkan, salah satu biota yang memiliki keterkaitan erat dengan ekosistem terumbu karang adalah ikan kerapu sunu. 

“Kerapu sunu merupakan ikan karang yang bersifat teritorial yang memiliki keterikatan yang sangat tinggi terhadap wilayah habitatnya. Ketika habitat terganggu, kehidupan dan pertumbuhannya juga dapat ikut terganggu,” terangnya.

Selain bersifat teritorial, kerapu sunu merupakan predator tingkat atas yang membutuhkan ketersediaan mangsa di dalam ekosistem. Peningkatan kekeruhan dapat mengganggu kemampuan visual ikan dalam menemukan dan menangkap mangsa. Akibatnya, perubahan kondisi habitat dapat berpengaruh terhadap ketersediaan makanan dan pertumbuhan kerapu sunu.

Efek Berlanjut
Dr Meutia menambahkan, peningkatan bahan organik akibat pengerukan juga dapat mendorong pertumbuhan makroalga secara berlebihan. Pertumbuhan makroalga yang lebih cepat dibandingkan karang dapat mengubah keseimbangan ekosistem dan menutupi terumbu karang. 

Perubahan nutrisi perairan juga berpotensi menurunkan oksigen serta mengganggu keseimbangan mikroorganisme, termasuk meningkatkan risiko berkembangnya bakteri oportunis seperti Vibrio.

Dampak tersebut, lanjutnya, dapat berlangsung dalam jangka panjang apabila aktivitas gangguan terjadi secara terus-menerus dan menyebabkan degradasi terumbu karang. Ekosistem yang telah mengalami kerusakan membutuhkan waktu panjang untuk pulih secara alami. 

“Ketika terumbu karang yang sehat mengalami degradasi, pemulihannya secara alami akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Kondisi ini pada akhirnya dapat memengaruhi keanekaragaman hayati, termasuk jumlah dan kesehatan kerapu sunu,” tuturnya. (dr)