Akademisi IPB University: Empati Perlu Disertai Kewaspadaan agar Tak Terjebak Modus Penipuan Minta Tumpangan
Viral kasus penipuan yang terjadi beberapa waktu lalu dengan modus meminta tumpangan menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap sesama perlu diimbangi dengan kewaspadaan.
Dosen Program Studi Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ilmu Sosial dan Ekologi Manusia (FISEMA) IPB University, Agung Minto Wahyu, SM, SPsi, MSi, menegaskan bahwa keputusan menolong seharusnya mempertimbangkan empati sekaligus risiko yang mungkin dihadapi.
“Dalam situasi yang membangkitkan rasa iba, penilaian terhadap risiko dapat menjadi kurang optimal, terutama ketika keputusan harus diambil secara cepat dan informasi mengenai orang yang ditolong sangat terbatas,” ujarnya.
Permintaan bantuan yang disampaikan secara langsung juga dapat menimbulkan tekanan psikologis sehingga seseorang merasa sungkan menolak, khawatir dianggap tidak peduli, atau merasa bersalah jika tidak membantu. Akibatnya, keputusan lebih banyak didasarkan pada dorongan emosional daripada pertimbangan yang matang.
“Empati bukanlah sesuatu yang keliru atau perlu dihindari. Persoalannya muncul ketika empati tidak disertai dengan kewaspadaan dan penilaian risiko yang memadai,” katanya.
Empati yang Sehat
Agung menjelaskan, empati yang sehat tidak selalu berarti memenuhi setiap permintaan bantuan. Seseorang tetap dapat menunjukkan kepedulian tanpa mengabaikan keselamatan diri maupun kemampuan menilai situasi secara rasional.
Ia membedakan dua bentuk respons empatik, yakni empathic concern dan personal distress. “Empati yang sehat lebih mencerminkan empathic concern, yaitu kepedulian yang tetap disertai kemampuan mengelola emosi, menilai risiko, dan menetapkan batas pertolongan,” jelasnya.
Sebaliknya, personal distress membuat seseorang terburu-buru membantu hanya untuk mengurangi rasa bersalah atau ketidaknyamanan emosional yang dirasakan.
Agung juga mengingatkan agar masyarakat tidak menilai seseorang hanya dari penampilan, usia, jenis kelamin, atau cara berpakaian.
“Kewaspadaan sebaiknya tidak didasarkan pada penampilan seseorang karena hal tersebut tidak dapat menunjukkan apakah seseorang memiliki niat baik atau buruk. Yang lebih penting adalah memperhatikan tingkat ketidakpastian situasi,” ujarnya.
Pastikan Tiga Hal Sebelum Membantu
Sebelum memutuskan memberikan bantuan tumpangan, ia menyarankan masyarakat memastikan tiga hal dengan jelas: identitas, alasan meminta bantuan, serta tujuan perjalanan. Selain itu, penting mempertimbangkan apakah terdapat hubungan sosial, komunitas, atau institusi yang dapat menjadi rujukan sehingga identitas orang tersebut lebih mudah diverifikasi, serta memastikan tersedia informasi yang memungkinkan orang tersebut dikenali atau ditelusuri.
Menurutnya, apabila informasi yang dapat diverifikasi sangat terbatas, tingkat ketidakpastian menjadi tinggi sehingga kewaspadaan perlu ditingkatkan.
“Yang perlu diwaspadai bukanlah seperti apa orang yang meminta tumpangan, melainkan seberapa banyak informasi penting yang belum diketahui dan tidak dapat diverifikasi. Semakin tinggi ketidakpastian, semakin kuat alasan untuk meningkatkan kewaspadaan atau bahkan menolak memberikan tumpangan,” tegasnya.
Opsi yang Lebih Aman
Agung menambahkan, membantu tidak selalu harus dalam bentuk yang diminta. Dalam situasi yang belum jelas, seseorang tetap dapat memberikan bantuan yang lebih aman, seperti membantu menghubungi keluarga, memesankan transportasi resmi, mengarahkan kepada petugas keamanan, atau menunggu bersama di tempat ramai hingga bantuan lain tersedia.
Apabila tetap memutuskan memberikan tumpangan, ia menyarankan agar identitas penumpang dan tujuan perjalanan dipastikan terlebih dahulu, memberi tahu keluarga atau orang terdekat, membagikan live location, serta memilih rute yang ramai dan mudah diakses.
“Keputusan menolong perlu mempertimbangkan kebutuhan orang yang meminta bantuan sekaligus risiko yang harus ditanggung penolong. Kepedulian tetap dapat diwujudkan tanpa mengabaikan keselamatan diri, karena inti dari membantu bukanlah keberanian mengambil risiko, melainkan kemampuan memilih bentuk pertolongan yang tepat, proporsional, dan aman,” pungkasnya. (dh)
