TEP IPB Tingkatkan Produktivitas Hutan Sagu, Sulap Limbah Sagu Jadi Media Budi Daya Jamur di Kampung Tambat
Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University mendorong peningkatan produktivitas hutan sagu sekaligus memanfaatkan limbah sagu menjadi media budi daya jamur di Kampung Tambat, Distrik Salor di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan.
Sagu menjadi salah satu potensi lokal yang memiliki peran penting bagi masyarakat. Namun, pengelolaan hutan sagu yang belum optimal masih menjadi tantangan bagi kelompok tani setempat. Jarak antarpohon yang tidak beraturan membuat beberapa tanaman tumbuh terlalu berdekatan dan saling berebut unsur hara.
Kondisi tersebut dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak seimbang dan berpotensi mempengaruhi produksi pati sagu. Di sisi lain, keberhasilan regenerasi tanaman juga masih menghadapi kendala karena sebagian bibit sagu yang ditanam mengalami kematian.
Strategi Peningkatan Produktivitas Hutan Sagu
Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penataan pola tanam dan pengelolaan bibit yang lebih tepat. Merespon hal tersebut, TEP IPB University di bawah koordinasi Ririh Sekar Mardisiwi memperkenalkan teknik budi daya dan penataan hutan sagu yang lebih tepat, salah satunya pengaturan jarak tanam sekitar 10 meter antarpohon.
“Jarak tanam yang lebih teratur dapat mengurangi persaingan antartanaman dalam memperoleh unsur hara, air, dan ruang tumbuh, sehingga pertumbuhan sagu dapat berlangsung lebih optimal,” kata Ririh dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Internal TEP IPB 2026, belum lama ini.
Selain pengaturan jarak tanam, penggunaan bibit sagu unggul menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan budi daya. Bibit yang memiliki kualitas pertumbuhan baik berpotensi menghasilkan tanaman yang lebih adaptif dan produktif apabila didukung dengan teknik penanaman dan pengelolaan lahan yang sesuai.
Penerapan teknik tersebut dapat diperkenalkan melalui pembuatan demplot atau lahan percontohan. Demplot berfungsi sebagai sarana pembelajaran untuk mengamati secara langsung penerapan jarak tanam, pemilihan bibit, teknik penanaman, serta perkembangan tanaman.
“Pendekatan ini membantu kelompok tani memahami hubungan antara pengelolaan lahan dan pertumbuhan sagu sekaligus menjadi acuan untuk menerapkan teknik budi daya yang lebih terukur,” ujar Ririh.
Sulap Limbah Jadi Media Budi Daya Jamur
Ririh mengatakan, tidak hanya pati sagu yang dapat dimanfaatkan, sisa hasil pengolahan sagu berupa batang pohon dapat dimanfaatkan menjadi media budi daya jamur. Batang pohon sagu yang sudah tidak terpakai, akan dihancurkan dan dicacah kecil hingga menyerupai serbuk. Kemudian, disatukan menjadi beberapa kantong dan dilubangi untuk meletakkan bibit jamur.
“Kami menerapkan budi daya terpadu, yakni hasil dari produksi sagu berupa ampas turut dapat diolah lebih lanjut menjadi pakan ternak, kompos, hingga wadah budi daya jamur,” pungkas Ririh.
Selain itu, ampas pati sagu bisa dimanfaat kembali sebagai bahan campuran bagi pakan ternak. Pemanfaatan tersebut membuka peluang bagi kelompok tani untuk mengolah sisa hasil pengolahan sagu menjadi kegiatan produktif sekaligus alternatif usaha.
Melalui penguatan pengetahuan budi daya dan pemanfaatan limbah, pengolahan sagu diharapkan dapat semakin tepat guna dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi kelompok tani dan masyarakat Kampung Tambat. (*/Rz)
