Mahasiswa IPB University Kembangkan MycoCaps, Booster Bio-Organik Berbasis Agen Hayati dan Limbah Biomassa

Mahasiswa IPB University Kembangkan MycoCaps, Booster Bio-Organik Berbasis Agen Hayati dan Limbah Biomassa

mahasiswa-ipb-university-kembangkan-mycocaps-booster-bio-organik-berbasis-agen-hayati-dan-limbah-biomassa
Berita / Student Insight

Mahasiswa IPB University yang sedang menjalankan Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K) mengembangkan MycoCaps, Complete Bio-Organic Booster berbentuk kapsul slow-release berbasis agen hayati dan limbah biomassa. Inovasi ini dikembangkan untuk mendukung efisiensi aplikasi input pertanian sekaligus memanfaatkan sumber daya lokal secara berkelanjutan. 

Okta Fitra Vidian selaku ketua tim mengatakan bahwa MycoCaps berangkat dari persoalan efisiensi pemupukan. Menurutnya, tantangan pertanian bukan hanya mengenai jumlah pupuk yang diberikan, tetapi juga bagaimana input tersebut dapat dimanfaatkan tanaman secara lebih efektif. 

“Karena itu, kami mengembangkan MycoCaps sebagai booster yang bekerja di sekitar zona akar dengan aplikasi yang lebih praktis dan presisi,” ujar Okta.

Lebih lanjut ia menjelaskan, MycoCaps memadukan fungi mikoriza arbuskula (FMA) dan plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) dari rizosfer bambu dengan bahan organik berupa ampas kopi dan bulu ayam yang telah diproses. 

Produk menggunakan konsep #OneCapsuleOnePlant, yaitu satu kapsul untuk satu tanaman pada setiap aplikasi. Berdasarkan pengujian tim, formulasi MycoCaps memiliki kandungan NPK 7,2 persen, C-organik 39 persen, dan pH 6,19. 

Selain agen hayati, tim memanfaatkan bulu ayam dan ampas kopi dari mitra sebagai bagian dari matriks organik. Ainayya Qurrota A’yuni, Chief Product Officer (CPO) MycoCaps, mengatakan bahwa pemanfaatan residu tersebut merupakan bagian dari upaya membangun sistem produksi minim limbah. 

“Kami tidak ingin sekadar mengklaim zero waste. Bagi kami, yang penting adalah bagaimana bahan yang tersedia dapat dimanfaatkan kembali dan proses produksinya terus diperbaiki agar limbah semakin minim,” tutur Ainayya. 

Pengembangan MycoCaps juga dilakukan melalui kolaborasi lintas keilmuan, mulai dari aspek produksi, tanah dan agronomi, pemasaran, hingga kelayakan usaha. Tim saat ini masih melakukan validasi produk, khususnya untuk mengetahui performa slow-release pada berbagai kondisi. 

Maulana Ghufron Nur Rafif, Chief Operating Officer (COO) MycoCaps, mengatakan bahwa tantangan terbesar muncul ketika produk mulai diuji di luar kondisi laboratorium. 

“Di lapangan, kondisi tanah, cuaca, tanaman, dan pola budi daya sangat beragam. Karena itu, validasi menjadi penting agar pengembangan MycoCaps benar-benar sesuai dengan kondisi nyata,” ungkap Ghufron. 

Ke depan, tim menargetkan penguatan validasi, peningkatan kapasitas produksi, serta pengembangan kemitraan dengan kelompok tani, nursery, dan toko pertanian agar MycoCaps dapat terus dikembangkan hingga tahap hilirisasi. (*/Rz)