Peringatan Lima Windu Pengendalian Hama Terpadu, IPB University Serukan Revitalisasi PHT dan Regenerasi Petani

Peringatan Lima Windu Pengendalian Hama Terpadu, IPB University Serukan Revitalisasi PHT dan Regenerasi Petani

peringatan-lima-windu-pengendalian-hama-terpadu-ipb-university-serukan-revitalisasi-pht-dan-regenerasi-petani
Berita

Peserta Sarasehan Peringatan 5 Windu Pengendalian Hama Terpadu (PHT) menyerukan revitalisasi PHT dan regenerasi petani, serta penguatan jaringan PHT yang diwariskan kepada generasi muda. Mereka turut menyepakati bahwa PHT adalah strategi, bukan sekadar teknik budi daya.

Sarasehan bertema “Ngariung Mungpulung: Mikul Dhuwur, Mendhem Jero” itu digelar IPB University melalui Himpunan Mahasiswa Proteksi Tanaman (Himasita), Departemen Proteksi Tanaman, dan Fakultas Pertanian (Faperta). 

Hadir 120 peserta, terdiri atas petani alumni Sekolah Lapang PHT (SLPHT), pemandu lapangan, akademisi, perwakilan kementerian, swasta, pemerhati pertanian, organisasi masyarakat sipil, dan mahasiswa dari Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan DKI Jakarta.

Melanjutkan Gerakan PHT
Guru Besar Faperta IPB University, Prof Hermanu Triwidodo, mengatakan kegiatan ini mempertemukan para pelaku PHT untuk beranjangsana dan mempercakapkan kembali perjalanan PHT. Selain itu, juga sebagai bentuk penghormatan kepada Presiden Soekarno sebagai peletak fondasi kedaulatan pangan dan Presiden Soeharto sebagai pencetus kebijakan pengendalian hama terpadu.

“Dengan merefleksikan perjalanan PHT serta jasa dua tokoh tersebut, para petani perlu terus melanjutkan gerakan ini dan menciptakan sejarah PHT sendiri. Gerakan ini harus terus digelorakan dalam bentuk aksi nyata di lapangan,” ujarnya saat acara Sarasehan di Kampus IPB Dramaga (24–25/10).

Kampus Harus Belajar ke Petani
Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet, menyebut petani yang datang ke IPB University sebenarnya pulang ke rumah bersama. Menurutnya, dari PHT dipelajari bahwa ketahanan pangan tidak cukup dibangun dengan tercukupinya input, tetapi dengan pengetahuan dan kearifan di tangan petani.

Ia setuju dengan rekomendasi sarasehan. Bahwa jaringan PHT perlu diperkuat dan diwariskan ke generasi muda, sementara pengamatan agroekosistem oleh petani perlu dipadukan dengan kecerdasan digital. Kurikulum perguruan tinggi serta program IPB University seperti One Village One CEO (OVOC), Dosen Pulang Kampung, dan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa diharapkan mengintegrasikan PHT.

“Pengalaman 40 tahun PHT ada di lahan para petani. IPB hadir untuk mendengarkan dan menjadikannya bahan untuk memperkuat pendampingan, riset, dan pendidikan pertanian bersama petani,” ujarnya.

Bukan Hanya Soal Teknologi
Dua Guru Besar Emeritus Departemen Proteksi Tanaman IPB University, Prof Syafrida Manuwoto dan Prof Aunu Rauf, menegaskan bahwa pertanian bukan hanya soal teknologi. 

“Bagi IPB, PHT bukan sekadar program. Bagi insan IPB, ini mandat Presiden Soekarno saat meletakkan batu pertama IPB,” tegas Prof Syafrida.

Prof Aunu Rauf menambahkan, jalan keluar dari ‘kemacetan’ pertanian tidak berhenti pada teknologi. Jika ada kebijakan yang memandang pertanian hanya soal teknologi dan menegasikan PHT, semua pihak harus berani mengoreksinya. “Produksi pangan tidak hanya soal teknologi, tetapi juga pengetahuan dan keterampilan petani. Itu ada di dalam PHT,” terangnya. (dh)