Tahan Tiga Tahun, Ini Rahasia Rendang Domba Premium Inovasi IPB University
Rendang domba premium yang dikembangkan dari hasil penelitian IPB University terbukti bisa disimpan hingga tiga tahun. Inovasi ini berawal dari penelitian Prof Asep Gunawan bersama tim peneliti Fakultas Peternakan IPB University sejak 2016.
Ide Besar di Balik Rendang Domba Kaleng
Kehadiran rendang domba premium dilatarbelakangi tantangan konsumsi daging domba yang dikenal beraroma kuat, bertekstur alot, serta berkandungan lemak dan kolesterol yang kerap dikeluhkan konsumen.
“Untuk menjawab tantangan tersebut, tim menggunakan teknologi SheepLight berbasis loop-mediated isothermal amplification (LAMP) untuk mendeteksi penanda genetik dalam seleksi domba premium. Sasarannya menciptakan daging yang lebih empuk, beraroma khas lebih rendah, dan berprofil asam lemak lebih baik,” kata Prof Asep selaku inovator.
Selain itu, rendang dipilih sebagai produk hilirisasi karena telah dikenal mancanegara dan memiliki identitas yang kuat. Pendekatan ini diharapkan menghasilkan diferensiasi kualitas yang menjadi keunggulan produk akhir.
Pengembangan domba premium melibatkan kelompok peternak dan pemangku kepentingan di tujuh provinsi: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Jambi, Sulawesi Tengah, dan Nusa Tenggara Timur. Kolaborasi mencakup pembibitan, seleksi ternak, pendampingan budi daya, hingga penguatan manajemen pemeliharaan.
Rahasia Kualitas dan Teknologi Tahan Tiga Tahun
Tantangan berikutnya adalah pengendalian proses pengolahan. Prof Asep menjelaskan, agar tahan lama, pangalengan dikombinasikan dengan sterilisasi termal.
Prosesnya mencakup pemilihan bahan baku, persiapan daging, pengolahan dengan bumbu rendang, pengisian kaleng, hingga penutupan kemasan secara hermetis. Produk kemudian disterilisasi dengan retort (mesin steril) dengan kombinasi suhu dan waktu yang sesuai.
Hasilnya, produk aman disimpan pada suhu ruang tanpa fasilitas pendingin, sehingga membuka peluang distribusi ke wilayah yang terbatas fasilitas pendinginnya. Hal ini membuka peluang distribusi yang luas ke wilayah yang terbatas fasilitas pendingin.
“Melalui rendang domba premium, kami ingin menunjukkan bahwa hasil penelitian pemuliaan ternak dapat memberikan nilai tambah ekonomi, membuka peluang pasar baru, meningkatkan kesejahteraan peternak, sekaligus memperkenalkan produk pangan inovatif Indonesia kepada dunia,” ungkap Prof Asep.
Menyasar Pasar Global
Seiring penguatan hulu, potensi pasar dijajaki melalui komunitas diaspora Indonesia dan konsumen kuliner Asia, khususnya di Asia Tenggara dan Timur Tengah. Upaya ini membuka peluang bagi rendang domba premium menjangkau pasar lebih luas sekaligus meningkatkan nilai tambah produk peternakan lokal.
“Bagi kami, keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya diukur dari publikasi ilmiah atau teknologi yang dihasilkan, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat.
Melalui hasil penelitian ini kami dapat memberikan nilai tambah ekonomi, membuka peluang pasar baru, meningkatkan kesejahteraan peternak, sekaligus memperkenalkan produk pangan inovatif Indonesia kepada dunia,” ujarnya. (*/Rz)
