Wujudkan Ko-Kreasi, IPB University dan WUR Susun Roadmap Sagu Berkelanjutan untuk Lanskap Gambut di Bangka
IPB University bersama Wageningen University and Research (WUR) mengembangkan roadmap kolaborasi pengembangan sagu yang berkelanjutan dan sirkuler melalui kegiatan ko-kreasi di PT Bangka Asindo Agri (BAA), Sungailiat, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung (25–27/9).
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Diaspora Berdampak 2026 Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), dikelola melalui kolaborasi Departemen Silvikultur dan Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University.
Fokus kolaborasi tidak hanya menempatkan sagu sebagai komoditas pangan, tetapi juga melihat peluang pemanfaatan biomassa dan hasil samping pengolahan untuk menciptakan nilai tambah sekaligus mendukung keberlanjutan lanskap, termasuk ekosistem gambut.
Fidrianto, Direktur Utama PT Bangka Asindo Agri, menyambut kolaborasi tersebut sebagai peluang memperkuat pengembangan sagu Indonesia dari aspek teknologi, keberlanjutan hingga penciptaan nilai tambah.
“Potensi sagu Indonesia sangat besar, tetapi masih banyak ruang yang perlu kita kembangkan bersama. Bagi kami, sagu tidak cukup hanya berhenti sebagai tepung. Kita perlu melihat bagaimana teknologi, inovasi produk, pemanfaatan hasil samping, dan pengelolaan lingkungan dapat menjadi satu sistem yang memberikan nilai tambah,” ujarnya.
Menurut dia, kolaborasi dengan perguruan tinggi penting agar apa yang dikembangkan dapat menjawab kebutuhan nyata industri sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Ko-kreasi dilakukan melalui site visit, diskusi dengan pelaku usaha, identifikasi potensi dan tantangan di lapangan, serta pembahasan awal roadmap pengembangan sagu. Melalui kunjungan tersebut, tim IPB University dan WUR melihat langsung proses pengolahan serta berbagai aliran sumber daya dalam rantai produksi sagu, termasuk peluang peningkatan efisiensi, diversifikasi produk, dan pemanfaatan biomassa serta residu.
D Yessie Widya Sari, Sekretaris CTSS IPB University, menekankan pentingnya memulai pengembangan solusi dari kondisi nyata di lapangan.
“Kami ingin memulai dari kebutuhan dan kondisi nyata di lapangan. Karena itu, kegiatan ini bukan sekadar kunjungan, tetapi proses ko-kreasi untuk melihat bersama bagaimana sagu dapat dikembangkan dari hulu hingga hilir, termasuk bagaimana residu dan biomassa yang dihasilkan dapat kembali memiliki nilai. Harapannya, kita dapat membangun solusi yang secara ilmiah kuat, secara ekonomi layak, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” ujar Drr Yessie.
Kegiatan ini juga menghadirkan Dr Aritta Suwarno dari WUR sebagai diaspora dengan keahlian pada ecosystem services, nature-based solutions, sustainable land use, dan circular bioeconomy. Menurutnya, pengembangan sagu perlu ditempatkan dalam konteks lanskap yang lebih luas.
“Sagu memiliki peluang menarik karena kita tidak hanya berbicara tentang satu komoditas, tetapi tentang bagaimana aktivitas ekonomi dapat dikembangkan sebagai bagian dari suatu lanskap. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan nilai ekonomi dan penghidupan yang layak, sambil tetap mempertahankan fungsi ekosistem,” jelas dia.
Perspektif tersebut menjadi semakin penting ketika pengembangan sagu dikaitkan dengan lanskap gambut. Ekosistem gambut memiliki fungsi ekologis yang penting sehingga aktivitas ekonomi di dalam dan di sekitarnya membutuhkan pendekatan yang mampu menyeimbangkan aspek produksi, penghidupan masyarakat, dan keberlanjutan ekosistem.
Roadmap awal diarahkan untuk menghubungkan riset dengan kebutuhan lapangan, mencakup penguatan produksi dan rantai nilai, pemanfaatan residu dan biomassa, pengembangan produk bernilai tambah, penguatan kapasitas masyarakat dan pelaku usaha, serta model bisnis yang mendukung keberlanjutan lanskap.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi pijakan bagi agenda bersama dalam mengembangkan sagu sebagai bagian dari solusi bioekonomi sirkular dan keberlanjutan lanskap gambut. (*/Rz)
