IPB University dan PELNI Kembangkan Ekosistem Bisnis Kelautan dan Ekowisata Berbasis Potensi Pesisir Wakatobi

IPB University dan PELNI Kembangkan Ekosistem Bisnis Kelautan dan Ekowisata Berbasis Potensi Pesisir Wakatobi

ipb-university-dan-pelni-kembangkan-ekosistem-bisnis-kelautan-dan-ekowisata-berbasis-potensi-pesisir-wakatobi
Berita / Pengabdian Masyarakat

IPB University bersama PT PELNI mendorong pengembangan ekosistem bisnis perikanan berbasis potensi lokal di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Salah satu inisiatif yang dikembangkan adalah budi daya ikan kerapu di Pulau Kapota melalui pendekatan One Village One CEO (OVOC) dan pengembangan keramba jaring apung (KJA).

Danang Aria Nugroho, SE, MSi, Sekretaris Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPAAI) IPB University menyampaikan, pengembangan kerapu di Pulau Kapota tidak hanya diarahkan pada aspek produksi, tetapi juga pada pembangunan ekosistem usaha yang mencakup pengelolaan kelembagaan, peningkatan kapasitas masyarakat, pengembangan pasar, hingga hilirisasi.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui inisiasi dan replikasi model sea farming dengan menjadikan KJA sebagai salah satu instrumen inovasi. “KJA diharapkan menjadi titik masuk untuk membangun ekosistem usaha perikanan masyarakat secara lebih terarah dan terkontrol, sekaligus membuka peluang pengembangan rantai nilai usaha kerapu dari hulu hingga hilir,” paparnya saat pemaparan program (23/9).

Komoditas ikan kerapu dipilih dengan mempertimbangkan kesesuaiannya dengan potensi perairan setempat serta peluang ekonominya. Pengembangan komoditas ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan budi daya, tetapi dapat berkembang menjadi rantai nilai usaha dari hulu hingga hilir yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat Pulau Kapota. 

“Bagi IPB University, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk penerjemahan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi menjadi aksi nyata di tengah masyarakat. Pengembangan masyarakat membutuhkan sinergi antara perguruan tinggi, dunia usaha, pemerintah, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya agar inovasi dapat tumbuh dan memberikan dampak yang berkelanjutan,” kata Danang.

Dalam rangka mendukung keberlanjutan program, telah dibentuk kelompok nelayan yang terdiri atas 10 orang. Kelompok tersebut diharapkan menjadi pengelola utama KJA sekaligus menjadi embrio kelembagaan ekonomi masyarakat yang dapat mengembangkan budi daya kerapu secara mandiri dan berkelanjutan.

Selain pemaparan mengenai pengembangan ekosistem bisnis kerapu, rangkaian kegiatan juga diisi dengan pelatihan Tata Kelola Kelembagaan oleh dosen Departemen Budidaya Perairan IPB University, Wildan Nurussalam, SPi, MSi. Pelatihan ini menjadi bagian penting dalam memperkuat kapasitas kelompok nelayan agar mampu menjalankan kelembagaan secara lebih terstruktur, membagi peran dan tanggung jawab, serta mendukung keberlanjutan pengelolaan usaha budi daya kerapu.

Kegiatan turut dihadiri oleh sejumlah tamu undangan, yaitu Asisten I Sekretaris Daerah Kabupaten Wakatobi Bakri, SH; Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Wakatobi Saoruddin, SPi, MSi; KUPP Kelas II Wanci Tri Mulyoko, STrPel; Kepala Cabang PELNI Baubau; Manager TJSL PELNI Septi; perwakilan Balai Taman Nasional Wakatobi; Kepala Desa Kabita Togo Tarson, SPd; Kepala Desa Kabuta Laode Bahlur; Kepala Desa Kapota H Jabal Nur; serta Kepala Desa Kapota Utara Nurwahid, SPd.

Mereka meninjau langsung lokasi KJA untuk melihat secara langsung kondisi sarana budi daya serta perkembangan inisiasi pengembangan kerapu yang dilakukan bersama masyarakat. Tinjauan ini sekaligus memperkuat pemahaman para pemangku kepentingan terhadap potensi pengembangan perikanan berbasis masyarakat di Pulau Kapota.

Melalui kolaborasi ini, pengembangan ekosistem bisnis kerapu di Pulau Kapota diharapkan dapat menjadi model pengembangan ekonomi masyarakat pesisir berbasis potensi lokal dan inovasi yang dapat terus dikembangkan serta direplikasi di wilayah lainnya. (*/Rz)