Dosen IPB University Peringatkan Bahaya Hematoma pada Atlet: Jangan Sepelekan Memar Pascabenturan
Benturan keras dalam pertandingan tidak selalu berhenti pada rasa sakit atau memar biasa. Pada kondisi tertentu, benturan dapat menyebabkan hematoma, yakni penumpukan darah di luar pembuluh darah akibat kerusakan pembuluh darah di jaringan otot. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat menimbulkan pembengkakan, nyeri, hingga mengganggu fungsi otot.
Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Agil Wahyu Wicaksono, MBiomed, menjelaskan bahwa hematoma pada jaringan otot cukup sering terjadi dalam olahraga yang melibatkan kontak fisik, seperti sepak bola, rugby, dan hoki.
“Hematoma adalah kumpulan darah yang terlokalisasi di luar pembuluh darah. Hematom ini terjadi ketika darah keluar dari pembuluh darah arteri, vena, atau kapiler yang mengalami kerusakan dan terkumpul di jaringan otot yang mengalami benturan.
Pada atlet, kondisi ini umumnya terjadi akibat benturan yang menyebabkan pembuluh darah arteri, vena, atau kapiler mengalami kerusakan sehingga darah keluar dan terkumpul di jaringan otot,” jelasnya.
Menurut dr Agil, hematoma tidak hanya disebabkan oleh benturan langsung. Tarikan atau beban yang terlalu berlebihan juga dapat menyebabkan serabut otot robek sehingga merusak pembuluh darah di dalam otot. Darah yang terkumpul kemudian dapat menimbulkan pembengkakan dan nyeri.
Jika darah terperangkap di dalam lapisan pembungkus otot, tekanan di dalam jaringan dapat meningkat dan berpotensi mengganggu aliran darah serta fungsi otot tersebut. Sebaliknya, apabila pembungkus otot ikut mengalami robekan, darah dapat menyebar ke jaringan di antara otot sehingga memar atau hematom ini terlihat lebih luas.
Atlet juga perlu mengenali tanda hematoma yang masih ringan maupun hematoma yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
“Kalau bengkak cepat membesar, nyeri semakin berat, anggota tubuh yang cedera sulit digerakkan, terdapat perubahan bentuk, atau kondisi tidak membaik bahkan semakin memburuk, sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas layanan kesehatan,” ujarnya.
Pertolongan Pertama: PRICE
Pada pertolongan pertama, dr Agil menyarankan prinsip PRICE, yaitu protect, rest, ice, compression, dan elevation. Bagian tubuh yang cedera perlu dilindungi dan diistirahatkan. Kompres dingin selama 10–20 menit dapat membantu mengurangi nyeri dan pembengkakan. Area cedera juga dapat dikompresi dengan perban elastis dan diposisikan lebih tinggi dari jantung.
“Kesalahan yang sering terjadi adalah langsung dilakukan pemijatan pada lokasi cedera atau kompres yang digunakan adalah kompres panas. Pada 24–72 jam pertama, tindakan tersebut sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan aliran darah ke lokasi cedera sehingga berisiko memperparah perdarahan dan pembengkakan,” jelasnya.
dr Agil mengatakan, waktu pemulihan hematoma berbeda-beda tergantung pada tingkat keparahan. Pada hematoma ringan yang tidak memerlukan penanganan operatif, atlet rata-rata dapat kembali berolahraga sekitar empat minggu. Namun, pada cedera yang lebih berat atau bahkan memerlukan tindakan operatif, pemulihan dapat membutuhkan waktu enam hingga delapan minggu atau lebih.
“Jangan hanya berpatokan pada jumlah hari. Atlet sebaiknya kembali bertanding ketika sudah tidak mengalami nyeri, gerakan dan kekuatan otot sudah kembali normal, serta mampu melakukan gerakan olahraga seperti yang biasanya dilakukan, misalnya berlari atau melakukan gerakan perubahan arah (change of direction movement) sebagai latihan kelincahan, tanpa keluhan,” pungkasnya. (AS)
