Mengapa Paus dan Lumba-lumba Semakin Sering Terdampar? Pakar IPB Jelaskan Penyebabnya

Mengapa Paus dan Lumba-lumba Semakin Sering Terdampar? Pakar IPB Jelaskan Penyebabnya

mengapa-paus-dan-lumba-lumba-semakin-sering-terdampar-pakar-ipb-jelaskan-penyebabnya
Foto: BPSPL Denpasar
Riset dan Kepakaran

Fenomena paus dan lumba-lumba yang semakin sering terdampar di pesisir menjadi perhatian banyak pihak. 

Menurut Dr Meutia Ismet, dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University, kejadian tersebut bukan hanya disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi berbagai aspek biologis, perubahan lingkungan, dan aktivitas manusia.

“Penelitian dalam dua dekade terakhir menunjukkan bahwa penyebab mamalia laut terdampar sangat kompleks. Pada setiap kasus, faktor yang berperan bisa berbeda dan saling memengaruhi,” ujarnya.

Infeksi Bakteri dan Parasit
Dr Meutia menjelaskan, salah satu penyebabnya adalah kerentanan biologis, seperti infeksi bakteri maupun parasit. Beberapa penelitian menemukan lumba-lumba yang terdampar memiliki akumulasi parasit yang tinggi sehingga memicu gangguan sistem imun dan malnutrisi. Kondisi tersebut diduga dapat memengaruhi fungsi kognitif dan kemampuan navigasi mamalia laut, meski hubungan langsungnya masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Selain itu, infeksi bakteri seperti meningitis yang menyerang jaringan selaput otak juga dapat mempengaruhi atau mengganggu sistem sonar yang digunakan paus dan lumba-lumba untuk bernavigasi. Gangguan serupa juga dapat dipicu oleh racun yang dihasilkan harmful algal bloom (ledakan alga berbahaya) maupun akumulasi logam berat yang berdampak pada sistem saraf dan menyebabkan disorientasi.

Perubahan Iklim dan Jalur Migrasi
Menurutnya, perubahan iklim dan pemanasan laut turut memperbesar risiko tersebut. Peningkatan suhu permukaan laut mengubah distribusi fitoplankton, krill, dan ikan yang menjadi sumber pakan mamalia laut. Akibatnya, paus dan lumba-lumba harus mengubah jalur migrasi untuk mengikuti mangsanya.

“Perubahan jalur migrasi membuat mereka mengeluarkan energi lebih besar. Ketika memasuki wilayah yang kurang dikenali, risiko kelelahan, kesalahan navigasi, hingga akhirnya terdampar juga meningkat,” jelasnya.

Akibat Aktivitas Manusia
Di sisi lain, aktivitas manusia seperti pencemaran laut, sampah plastik, penangkapan ikan berlebih (bycatch), hingga masuknya limbah organik ke perairan turut memperburuk kondisi ekosistem laut. Limbah organik dapat memicu ledakan alga berbahaya yang menghasilkan neurotoksin dan mengganggu sistem saraf mamalia laut.

Dr Meutia menambahkan, paus dan lumba-lumba merupakan mamalia sosial dengan tingkat kecerdasan tinggi. Ketika satu individu mengalami disorientasi atau terdampar, anggota kelompok lainnya kerap mengikuti untuk memberikan pertolongan sehingga jumlah individu yang terdampar bisa bertambah.

Ia mengimbau masyarakat agar tidak panik apabila menemukan paus atau lumba-lumba terdampar. Prioritas utama adalah menjaga keselamatan diri, segera melaporkan kejadian kepada instansi atau tim penyelamat yang berwenang, mengurangi keramaian di sekitar hewan, menjaga kulitnya tetap basah dan terlindung dari panas matahari, serta memastikan lubang pernapasannya tidak tertutup pasir sambil menunggu penanganan profesional. (Lp)