Berdayakan Ekonomi Perempuan, IPB University Gelar Pelatihan Pembuatan Tepung dan Produk Olahan Mocaf
Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University sukses menyelenggarakan Pelatihan Diversifikasi Pangan Lokal Berbasis Tepung Mocaf (modified cassava flour) di Kelompok Tani Setia, Kampung Cangkrang, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, beberapa waktu lalu.
Kegiatan yang mengusung misi pemberdayaan ekonomi perempuan di wilayah penyangga kampus ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) oleh para dosen Divisi Teknik Biosistem. Pelatihan diikuti sebanyak 21 peserta perempuan anggota Rumah Keluarga Indonesia (RKI) Bogor di bawah pimpinan Wiwit Munggarani.
Inisiatif pelatihan ini digagas sebagai solusi nyata atas terbatasnya diversifikasi pangan lokal di wilayah perdesaan, di tengah tingginya angka ketergantungan masyarakat terhadap tepung terigu impor.
Singkong sebagai salah satu komoditas unggulan Jawa Barat, dapat dijadikan sebagai bahan baku utama untuk pembuatan tepung mocaf. Melalui proses fermentasi, mocaf menghasilkan karakteristik tepung dengan tekstur dan cita rasa yang lebih netral dibandingkan tepung singkong biasa.
Kepala Divisi Teknik Biosistem IPB University, Prof Rokhani dalam sambutannya menekankan pentingnya menjembatani hasil riset akademis dengan kebutuhan riil di lapangan.
“Riset yang hanya berhenti di laboratorium tidak akan banyak berarti jika tidak sampai ke tangan masyarakat yang membutuhkan. Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin memastikan bahwa ilmu pengetahuan yang dikembangkan di IPB benar-benar memberi manfaat langsung bagi masyarakat dan pemberdayaan kaum perempuan,” ujarnya.
Ia menambahkan, diversifikasi pangan berbasis bahan baku lokal merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi sektor rumah tangga. Ketergantungan pada satu jenis pangan sangat rentan terhadap berbagai resiko seperti gagal panen, perubahan iklim atau gangguan distribusi.
Dosen Divisi Teknik Biosistem, Dr Nanik Purwanti mengawali sesi materi dengan menjelaskan potensi, peluang usaha, dan ragam produk olahan berbasis tepung mocaf seperti mi, biskuit, kukis, kue, roti dan produk gluten free lainnya.
Seluruh peserta didampingi oleh tim dosen dan anggota Kelompok Tani Setia juga mempraktikkan langsung pengolahan tepung mocaf menjadi produk pangan siap konsumsi, yakni mi ayam mocaf dan kukis. Ketua Kelompok Tani Setia, Ujang, memberikan demonstrasi langsung proses pembuatan tepung mocaf secara higienis kepada para peserta.
Edukasi interaktif ini disambut hangat oleh para peserta yang mulai menyadari nilai tambah ekonomi dari singkong, komoditas yang selama ini kerap dijual mentah dengan harga murah.
“Sebelumnya kami hanya tahu singkong itu direbus atau digoreng saja. Sekarang kami jadi paham cara mengolahnya menjadi tepung dan bisa dibuat mi, kukis, dan produk pangan sehat lainnya. Ilmunya sangat berguna, apalagi kami langsung praktik, jadi lebih mudah dipahami dan diingat,” tutur salah satu peserta.
Selain aspek ekonomi, tepung mocaf juga menawarkan keberlanjutan dari sisi ketahanan pangan nasional sebagai alternatif pengganti gandum. Ke depan, program pendampingan lanjutan akan terus digulirkan agar produk olahan berbasis singkong ini dapat naik kelas dan siap bersaing di pasar yang lebih luas.
Prof Rokhani yang juga menjabat sebagai Wakil Kepala Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I) Bidang Inkubator Bisnis dan Kemitraan Industri juga menawarkan kepada para peserta untuk meningkatkan keterampilan mereka dalam memproduksi biskuit, kukis, roti dan croissant di Teaching Industry, Science Techno Park (STP) IPB University. (*/Rz)
