IPB Environment Day 2026: Tanam 3.000 Pohon dan Perkuat Kolaborasi Pelestarian Lingkungan
Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Himpunan Alumni (HA) dan Badan Eksekutif Mahasiswa-Keluarga Mahasiswa (BEM KM) IPB University menggelar IPB Environment Day 2026, Jumat (5/6). Kegiatan berupa dengan aksi penanaman pohon dan pelepasan burung di Taman Hutan Kampus IPB Dramaga.
Rangkaian juga dihiasi dengan korve (kerja bakti) dan dialog lingkungan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan sebagai wujud komitmen bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan dan memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Wakil Menteri Lingkungan Hidup RI, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, PhD mengapresiasi komitmen IPB University dalam menjaga kawasan hijau kampus yang dinilai mampu mendukung keberagaman hayati Indonesia.
“Saya banyak terkagum dengan IPB karena ruang terbuka hijaunya sangat besar dan mampu mendukung berbagai macam biodiversitas yang ada di Indonesia. Pemerintah tentu sangat mendukung kegiatan seperti ini dan kami siap berkolaborasi dengan IPB untuk mendukung kelestarian alam,” ujarnya.
Ia juga menyoroti inovasi riset IPB University terkait upaya penurunan emisi gas metana dari ternak sapi melalui pengaturan komposisi pakan. Menurutnya, riset tersebut berpotensi memberikan kontribusi nyata terhadap upaya mitigasi perubahan iklim.
“Jika nantinya hasil riset ini dikomersialisasikan dan memerlukan metodologi untuk penerbitan sertifikat pengurangan emisi gas rumah kaca, kami siap memberikan pendampingan dalam penyusunan metodologi hingga proses pengajuan dan endorsement,” jelasnya.
Pada momen ini, Rektor IPB University, Dr Alim Setiawan Slamet juga menegaskan bahwa pelestarian lingkungan merupakan bagian penting dari pelaksanaan tridarma perguruan tinggi. “IPB terus berkomitmen untuk berkontribusi pada peningkatan kualitas lingkungan hidup melalui pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Kampus IPB Dramaga merupakan ekosistem yang kaya keanekaragaman hayati. Dari total 1.669 hektare lahan yang tersebar di 18 lokasi, sekitar 94 persen merupakan ruang hijau yang terdiri atas kawasan hutan dan area tanam. Di kawasan tersebut hidup 99 spesies burung, 128 spesies kupu-kupu, 38 jenis reptil, 22 mamalia, dan 12 amfibi.
“Ini bukan taman nasional. Ini bukan kebun binatang. Ini adalah kampus kita; tempat belajar, berkarya, dan berdampak,” ungkapnya.
Rektor berharap Taman Hutan Kampus IPB dapat terus dikembangkan sebagai living laboratory yang mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, dan inovasi di bidang lingkungan.
Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) HA, Fauzi H Amro menegaskan komitmen alumni dalam mendukung berbagai program lingkungan yang dijalankan mahasiswa dan IPB University.
“Kami selalu mendukung kegiatan yang dilakukan BEM maupun IPB University. Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, kami bersama-sama melaksanakan penanaman pohon, korve, dialog lingkungan, dan pelepasan burung,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa gerakan penanaman pohon tidak hanya dilaksanakan di Kampus IPB Dramaga, tetapi juga dilakukan secara serentak oleh jaringan alumni IPB di seluruh Indonesia. Melalui 34 DPD, 260 DPC, komisariat, badan otonom, serta jaringan internasional, HA IPB menginisiasi penanaman sekitar 3.000 pohon dari berbagai jenis.
Menurut Fauzi, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari gerakan berkelanjutan yang melibatkan alumni dan mahasiswa dalam menjaga lingkungan.
“Keberlanjutan lingkungan hidup bukan hanya tanggung jawab IPB, tapi kita semua. Pohon-pohon yang ditanam hari ini akan terus kami rawat bersama agar memberikan manfaat bagi generasi mendatang,” tuturnya.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Arif Satria yang turut hadir menjelaskan bahwa Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada dasarnya memiliki tujuan yang sama dengan Hari Bumi, yakni membangun kesadaran dan mendorong aksi nyata untuk menjaga kelestarian bumi.
“Hari Bumi adalah gerakan sosial yang tumbuh dari masyarakat, sedangkan Hari Lingkungan Hidup Sedunia merupakan gerakan yang lahir dari forum internasional (Perserikatan Bangsa-Bangsa/PBB). Namun keduanya sama-sama penting karena memiliki tujuan yang sama, yaitu menyelamatkan bumi,” ujarnya.
Ia menambahkan, yang terpenting bukanlah membandingkan kedua peringatan tersebut, melainkan memperkuat komitmen bersama dalam menjaga lingkungan dan keberlanjutan bumi bagi generasi mendatang. (AS)
