Angka Pertumbuhan Saja Tidak Cukup, Akademisi FEM IPB University Bedah Gagasan Marketomics

Angka Pertumbuhan Saja Tidak Cukup, Akademisi FEM IPB University Bedah Gagasan Marketomics

angka-pertumbuhan-saja-tidak-cukup-akademisi-fem-ipb-university-bedah-gagasan-marketomics.jpg
Berita

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi sering kali menjadi indikator bahwa kondisi ekonomi sedang berada dalam arah yang positif. Namun, apakah angka tersebut cukup untuk menjelaskan kualitas kehidupan masyarakat dan daya tahan ekonomi ke depan? 

Pertanyaan tersebut menjadi titik berangkat munculnya gagasan “marketomics”, sebuah pendekatan yang mendorong cara membaca ekonomi secara lebih luas dan tidak berhenti pada indikator semata. 

Dalam Strategic Discussion Series #2 yang digelar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, para akademisi dan ekonom IPB membedah gagasan marketomics.

Narasumber, Ir Budi Purwanto, ME, menuturkan bahwa marketomics tidak hadir untuk menggantikan market economics, tetapi untuk memperluas pertanyaan yang selama ini digunakan dalam membaca ekonomi. 

“Jika pendekatan konvensional banyak menekankan efisiensi dan harga sebagai sinyal utama, maka marketomics mencoba melihat dimensi lain seperti nilai, risiko, pembelajaran, adaptasi, hingga keberlanjutan,” urainya.

Dalam pemaparannya, ia menyoroti tiga kecenderungan yang membuat pembacaan ekonomi menjadi kurang utuh. Pertama, ketika indikator dijadikan tujuan akhir dan bukan alat untuk mencapai pembangunan. Kedua, ketika stabilitas dipahami sebagai tujuan, bukan sebagai fondasi untuk bergerak dan berkembang. Ketiga, ketika aktivitas pasar yang tinggi dianggap identik dengan kesejahteraan.

“Angka benar, tetapi tidak cukup. Ekonomi tidak hanya perlu efisien, tetapi juga harus mampu bertahan, beradaptasi, belajar, dan menjaga kepercayaan,” ungkapnya. 

Melalui marketomics, ia melanjutkan, pasar dipahami bukan hanya sebagai ruang transaksi, melainkan sistem yang saling terhubung. “Harga tetap penting, tetapi bukan satu-satunya sinyal. Banyak risiko dan kerentanan justru muncul lebih awal sebelum akhirnya tercermin dalam indikator formal,” tandasnya.

Menurut dia, konsep tersebut juga mendorong pembacaan pasar melalui berbagai sinyal secara bersamaan (multi-signal market reading) serta menekankan keterkaitan antara pasar produk, pasar tenaga kerja, dan pasar modal dalam membentuk aliran nilai ekonomi. 

Menanggapi gagasan tersebut, Dr Suharno selaku pembahas menilai bahwa marketomics lebih tepat dipahami sebagai kerangka berpikir yang memperluas perspektif ekonomi dibandingkan teori ekonomi baru.

“Pertanyaan penting berikutnya bukan hanya apa yang ingin dijelaskan oleh marketomics, tetapi juga bagaimana konsep tersebut dapat diukur dan diuji secara empiris,” ujar dosen Departemen Agribisnis IPB University. 

Sementara itu, Guru Besar Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan IPB University, Prof Yusman Syaukat melihat marketomics sebagai upaya untuk menjawab keterbatasan indikator ekonomi dalam menangkap realitas sosial secara lebih menyeluruh. 

“Meski masih memerlukan penguatan secara konseptual dan metodologis, gagasan ini membuka ruang baru bahwa membaca ekonomi tidak cukup hanya dari harga dan pertumbuhan, tetapi juga dari nilai yang dihasilkan dan kemampuan sistem untuk bertahan menghadapi masa depan,” ungkapnya. (Ez)