Tiga Peserta Disabilitas Rungu Ikuti UTBK-SNBT di IPB University, Salah Satunya Pemenang Olimpiade Matematika
Kampus Sekolah Vokasi IPB University menjadi lokasi Ujian Tulis Berbasis Tes-Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) bagi tiga peserta disabilitas rungu: Nashwa Noor Marlin Tadjuddah, Valentino Rasha Muharam, dan Zikra Nadhifsyah. Ketiganya mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi negeri dengan dukungan penuh dari orang tua yang turut mendampingi.
Ibunda Nashwa, Nur Isiyana Wiyanti, datang jauh-jauh dari Sulawesi Tenggara untuk mendukung anaknya mengikuti tes di IPB University. Pemilihan IPB sebagai lokasi ujian didasari oleh ikatan emosional karena kedua orang tuanya yang merupakan alumni IPB University, serta pertimbangan fasilitas yang memadai bagi anak berkebutuhan khusus.
“IPB fasilitasnya bagus sekali, kami harus memilih universitas yang sudah menerapkan pendekatan yang membantu anak-anak kami,” ujar Wiyanti. Ia menambahkan bahwa fasilitas di IPB University dapat memberikan semangat berbeda yang berpotensi menaikkan peluang kelulusan anaknya.
Seperti kedua orang tuanya, Nashwa memantapkan pilihan pada IPB University dengan tiga program studi: S1 Matematika, S1 Kecerdasan Buatan, dan D4 Manajemen Industri Jasa Makanan dan Gizi (MIJMG). Meskipun memiliki cita-cita di bidang perikanan dan senang bermain komputer, ia diarahkan ke Matematika terlebih dahulu mengingat prestasinya sebagai juara Olimpiade Matematika Online.
Peserta lain, Valentino Rasha Muharam, didampingi oleh ibundanya, Vivi Elvira. Valentino memiliki minat melukis dan desain grafis. Vivi Elvira menomorsatukan pengalaman dan perjuangan hidup bagi anaknya, mendorongnya untuk mengikuti berbagai kompetisi dan lomba.
“Sebenarnya pelajaran utama itu pengalaman,” kata Vivi, yang berharap anaknya dapat masuk perguruan tinggi negeri, demi mempermudah manajemen keuangan keluarga.
Sementara itu, Zikra Nadif Shah, lulusan dari SMK 6 Jakarta, didampingi oleh ibundanya, Yunelia. Yunelia menerapkan pola asuh tanpa membedakan Zikra dari anak-anak biasa, meskipun tetap memperhatikan kebutuhannya.
Pendekatan orang tuanya yang tidak terlalu menekan dan tidak menunjukkan perbedaan membuat Zikra selalu bersemangat, dan ia terbukti mampu bersekolah di sekolah umum. (dh)
