Merespons Apresiasi Mentan, IPB University Perkuat Kontribusi Benih Nasional Lewat Varietas Unggul Padi Tipe Baru
Belum lama ini, benih padi IPB 9G mendapat apresiasi dari Menteri Pertanian (Mentan). Sebagai bentuk dukungan nyata, Kementerian Pertanian melakukan pembelian benih padi IPB 9G senilai Rp250 miliar.
Merespons hal tersebut, IPB University menegaskan kesiapannya dalam mewujudkan tantangan yang diberikan Mentan dengan terus melakukan pengembangan varietas unggul padi. Sebuah kegiatan “Temu Lapangan Produksi Benih Padi” digelar di Sawah Percobaan IPB, Kp Sawah Baru, Babakan, Dramaga, Bogor (13/4).
Rektor Dr Alim Setiawan Slamet, menyampaikan bahwa IPB University terus mendorong para pemulia (breeder) untuk menghasilkan inovasi varietas padi unggul yang adaptif dan produktif.
“Kita sangat men-support para breeder luar biasa seperti Prof Hajrial untuk terus mengembangkan varietas unggul, khususnya benih padi. Alhamdulillah, IPB telah menghasilkan 15 varietas unggul, mulai dari IPB 1R hingga IPB 15S yang hari ini benihnya kita panen,” ujarnya.
Ia menambahkan, varietas unggul IPB University kini telah diterima luas oleh masyarakat dan digunakan pada hampir 110 ribu hektare lahan di Indonesia. Bahkan, sebutnya, IPB University mendapat tantangan dari pemerintah untuk mengembangkan varietas dengan produktivitas hingga 15 ton per hektare.
“Kami akan memperkuat kolaborasi, baik dalam maupun luar negeri, untuk menjawab tantangan tersebut demi mendukung ketahanan pangan nasional,” tambahnya.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Prof Hajrial Aswidinnoor menjelaskan bahwa pengembangan varietas unggul IPB tidak hanya berfokus pada produktivitas, tetapi juga aspek nutrisi dan keberlanjutan lingkungan.
“Kami terus berupaya menghasilkan varietas yang tidak hanya tinggi hasil, tetapi juga memiliki kandungan nutrisi seperti zink (Zn) dan asam folat (FA), serta efisien dalam penggunaan pupuk dan air,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa varietas IPB University dikembangkan dengan pendekatan padi tipe baru, yang memiliki karakter arsitektur tanaman berbeda dibanding varietas revolusi hijau.
“Ciri utamanya adalah ukuran tanaman yang lebih besar, daun lebih panjang, dan malai lebih lebat. Dengan arsitektur ini, tanaman tetap mampu berproduksi tinggi meski dengan dosis pupuk yang lebih rendah,” ujarnya.
Menurutnya, inovasi ini juga diarahkan untuk menghasilkan padi yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, termasuk pengembangan sistem perakaran yang lebih dalam dan efisien dalam penggunaan air.
Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim Prof Ernan Rustiadi menekankan pentingnya hilirisasi inovasi agar hasil riset dapat diterapkan secara luas di masyarakat.
“Kami bertugas menjembatani inovasi IPB agar bisa diterima di lapangan dan masuk ke dunia industri, sehingga tidak terjadi ‘lembah kematian’ antara riset dan implementasi,” jelasnya.
Ia menyebutkan, dalam 15 tahun terakhir, varietas unggul IPB University semakin mendapat tempat di kalangan petani. Dari delapan varietas padi nasional dengan potensi produktivitas tinggi (di atas 11 ton per hektare), lima di antaranya merupakan hasil inovasi IPB University.
“Seluruh varietas unggul IPB ini termasuk dalam kategori padi tipe baru yang ramah perubahan iklim hemat air, hemat pupuk, rendah emisi, serta memiliki produktivitas tinggi dan ketahanan terhadap penyakit,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa penerapan varietas ini memerlukan perubahan budaya bertani melalui standar operasional baru yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, IPB University tidak hanya menunjukkan capaian risetnya, tetapi juga memperkuat komitmen dalam menghadirkan inovasi varietas unggul padi yang mampu menjawab tantangan produktivitas, perubahan iklim, dan peningkatan kualitas gizi masyarakat Indonesia. (AS)
