Dosen FKGiz IPB University: Gangguan Penglihatan Warna Umumnya Bersifat Turunan

Dosen FKGiz IPB University: Gangguan Penglihatan Warna Umumnya Bersifat Turunan

dosen-fkgiz-ipb-university-gangguan-penglihatan-warna-umumnya-bersifat-turunan.jpg
Ilustrasi (freepik)
Riset dan Kepakaran

Pernah kesulitan membedakan warna tertentu, misalnya merah dan hijau? Kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya gangguan penglihatan warna yang sering dikenal sebagai buta warna (discromatopsia).

Selama ini, banyak orang baru sadar memiliki gangguan penglihatan warna ketika mengikuti tes kesehatan untuk sekolah, pekerjaan, atau pembuatan surat izin mengemudi (SIM), misalnya. Padahal, kondisi ini umumnya sudah ada sejak lahir dan berkaitan dengan faktor keturunan.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Drasthya Zarisha, SpM, menjelaskan bahwa discromatopsia umumnya berkaitan erat dengan faktor keturunan, khususnya kondisi buta warna yang diwariskan orang tua. “Sebagian besar kasus gangguan penglihatan warna bersifat bawaan atau kongenital.”

Ia menuturkan, “Gangguan ini terjadi akibat kelainan pada sel kerucut di retina, yakni sel yang berperan penting dalam menangkap dan membedakan warna. Pada individu dengan penglihatan normal atau trikromatis, mata mampu mencampur tiga warna dasar, yaitu merah, hijau, dan biru,” urainya. 

Buta warna kongenital berkaitan dengan gen resesif yang terletak pada kromosom X, khususnya pada spektrum merah-hijau. Karena itu, kondisi ini lebih sering diturunkan melalui ibu yang berperan sebagai carrier.

“Jika seorang ibu membawa gen buta warna atau mengalaminya, maka anaknya berpotensi memiliki kondisi serupa. Untuk anak laki-laki, cukup satu gen X yang terdampak untuk mengalami buta warna, sedangkan pada perempuan dibutuhkan dua gen X yang terdampak,” jelasnya.

Sementara itu, ayah yang mengalami buta warna tidak serta merta menurunkan kondisi tersebut kepada anak laki-lakinya. Hal ini karena anak laki-laki menerima kromosom Y dari ayah dan kromosom X dari ibu.

Untuk mendeteksi gangguan ini, dr Drasthya menyebutkan bahwa pemeriksaan sederhana dapat dilakukan melalui tes buta warna, salah satunya menggunakan Buku Ishihara. Tes ini menggunakan lempeng warna pseudoisokromatis untuk menguji kemampuan membedakan warna, khususnya merah dan hijau.

“Untuk mengetahui lebih spesifik gen yang terlibat, dapat dilakukan pemeriksaan genetik,” tambahnya.

Terkait penanganan, ia menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada metode untuk mencegah maupun menyembuhkan buta warna bawaan. Hal ini karena gangguan terjadi pada “sensor warna” di retina sejak lahir.

Meski demikian, penderita tetap dapat beradaptasi dengan berbagai cara, seperti menggunakan strategi membaca kode warna, pelabelan, atau memanfaatkan aplikasi ponsel untuk membantu identifikasi warna. Pada kasus buta warna yang didapat akibat penyakit tertentu, perbaikan persepsi warna dimungkinkan jika penyebabnya dapat diobati.

Ia juga menjelaskan perbedaan antara buta warna total dan parsial. Buta warna total atau akromatopsia merupakan kondisi paling berat karena individu hanya dapat melihat dalam nuansa abu-abu akibat tidak berfungsinya sel kerucut. Pada kondisi ini, ketajaman penglihatan juga dapat menurun dari ringan hingga berat. 

“Sementara pada buta warna parsial, gangguan hanya terjadi pada sebagian spektrum warna,” pungkasnya. (dh)