Menyebar Teknologi Padi Gogo Hingga Ujung Negeri

Menyebar Teknologi Padi Gogo Hingga Ujung Negeri

menyebar-teknologi-padi-gogo-hingga-ujung-negeri.jpg
Berita / Pengabdian Masyarakat

Fakultas Pertanian (Faperta) IPB University terus berkomitmen mendukung peningkatan produksi dan produktivitas tanaman pangan di berbagai wilayah Indonesia. 

Belum lama ini, Faperta melakukan penyebaran teknologi budi daya padi gogo di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur (Kaltim), yang selama ini menjadi salah satu kawasan penanaman padi lahan kering secara tradisional. 

“Kalau mau melihat model pengembangan padi gogo tumpang sari dengan sawit rakyat, ya itu ada di Dumaring, Berau Kaltim ini,” ujar Prof Suryo Wiyono, Dekan Faperta IPB University di sela diskusi dengan Petani di Dumaring, (16/2). 

Di daerah tersebut, lanjut Prof Suryo, masyarakat punya basis kultural yang kuat dalam penanaman padi gogo. “Ini merupakan modal utama untuk keberhasilan penanaman padi gogo. IPB hadir di sini cukup hanya perbaikan saja,” kata dia. 

Budi daya padi gogo telah menjadi tradisi masyarakat di Berau. Namun demikian, petani masih menghadapi berbagai kendala, antara lain produktivitas yang relatif rendah, umur panen yang cukup panjang hingga enam bulan, serta kebutuhan untuk berpindah lahan karena kesuburan tanah yang cepat menurun. 

Melalui kolaborasi dengan PT Aksenta, dan masyarakat Patikraja, Faperta IPB University menghadirkan inovasi perbaikan teknologi budi daya padi gogo. Perbaikan tersebut meliputi penggunaan varietas unggul IPB 9G, imunisasi benih, serta pengelolaan pemupukan yang lebih tepat dan berimbang.

Kegiatan ini dilaksanakan pada lahan seluas 4 hektare di wilayah Dumaring, yang secara administratif masuk Desa Patikraja, Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau. 

“Varietas IPB 9G yang diperkenalkan memiliki umur panen lebih genjah dibandingkan varietas lokal yang biasa digunakan petani. Selain itu, varietas ini relatif lebih tahan terhadap penyakit, dan performa pertumbuhan yang bagus,” tutur Prof Suryo.

Tokoh masyarakat tani Patikraja, Abdul Muin mengaku sangat tertarik dengan padi IPB University karena pertumbuhannya bagus, kokoh, ditambah teknologi lain yang ditawarkan, seperti teknologi pengendalian hama dan penyakit. 

“Hasil hasil teknologi dari kampus harusnya memang diterapkan ke petani seperti ini, sehingga pertanian di masyarakat bisa lebih maju,” kata dia menegaskan.

Melalui kegiatan ini, Faperta IPB University menegaskan perannya dalam mentransformasikan hasil riset menjadi solusi nyata bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan dan penguatan sistem pertanian berkelanjutan di wilayah Kalimantan Timur. (*/Rz)