IPB University Launching Nutriferads: Alat Fertigasi dan Irigasi Otomatis

IPB University Launching Nutriferads: Alat Fertigasi dan Irigasi Otomatis

IPB University Launching Nutriferads: Alat Fertigasi dan Irigasi Otomatis
Berita

Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB University melalui program Riset Inovatif Produktif (Rispro) Invitasi Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) me-launching alat Nutriferads di Kebun Percobaan PKHT IPB, Bogor (20/3). Mesin ini digunakan untuk fertigasi dan irigasi otomatis terintegrasi pada budi daya tanaman sayuran.

Kepala PKHT IPB University, Prof Awang Maharijaya mengatakan, inovasi ini dihasilkan dari pendekatan ilmu multidisiplin mulai dari agronomi dan hortikultura, proteksi tanaman, ilmu komputer dan agribisnis.

Ia menjelaskan, teknologi Nutriferads merupakan suatu sistem untuk meningkatkan efisiensi dan modernisasi pertanian hortikultura sehingga hasil inovasi bisa langsung diterima oleh pasar.

“Isu utama pertanian sekarang kita adalah nilai upah hari orang kerja (HOK) semakin naik, kelangkaan air bersih, serta ketersediaan pupuk yang harganya naik. Dari ketiga isu ini, diciptakanlah suatu inovasi sistem irigasi dan fertigasi sehingga penggunaan air dan hara menjadi lebih efisien,” ucapnya.

Peneliti Nutriferads yang juga sebagai dosen IPB University dari Departemen Agronomi dan Hortikultura, Prof Anas D Susila mengatakan, budi daya tanaman presisi diawali dari kegiatan pengelolaan kesehatan dan kesuburan tanah secara presisi. Alat ini, kata dia, dapat merekomendasikan pupuk untuk 30 jenis tanaman sayuran komersial.

“Hasil rekomendasi pupuk dapat diaplikasikan pada budi daya tanaman secara otomatik menggunakan mesin Nutriferads sehingga kebutuhan air dan pupuk dapat diberikan secara presisi,” ucapnya

Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Wisnu Sardjono Soenarso, MEng menyampaikan, pihaknya telah memberikan pendanaan ke IPB University sebesar 280 miliar melalui dana abadi LPDP. Dana abadi ini adalah dana yang imbal hasil investasinya dipakai untuk pembiayaan beasiswa dan riset.

“Harapannya riset ini bisa diterapkan bukan untuk petani berdasi saja tapi untuk petani yang mempunyai tanah di bawah satu hektare. Kita sarankan IPB University juga berkolaborasi dengan universitas lain tentang riset hilirisasi pertanian,” tegasnya.

Wakil Rektor IPB University bidang Riset, Inovasi dan Pengembangan Agromaritim, Prof Ernan Rustiadi mengatakan bahwa kontribusi PKHT sangat signifikan dalam pengembangan smart agriculture. Keberhasilan adanya PKHT IPB University terbukti dengan lahirnya varietas pepaya Calina yang sekarang diminati hingga 7 ton per minggu.

“Inovasi seperti alat Nutriferads di bidang hortikultura merupakan bagian penting dari roadmap milestone IPB Agromaritim yang telah berjalan selama tiga tahun. Hal ini menunjukkan pentingnya teknologi 4.0 untuk memfasilitasi masa depan yang semakin mendesak,” ucapnya. (dr/Rz)