Mahasiswa IPB University Sosialisasi Program Pengembangan Wisata Agroforestri Kopi Eco Edutourism di Pasir Sarongge, Cianjur
Himpunan Profesi Mahasiswa Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University atau Forest Management Students’ Club (FMSC) melakukan sosialisasi Program Pengembangan Wisata Agroforestri Kopi Eco Edutourism kepada masyarakat Pasir Sarongge, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Program tersebut merupakan salah satu bagian dari kegiatan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa). Tim pelaksana PPK Ormawa FMSC IPB University terdiri dari 13 mahasiswa yang berasal dari berbagai multidisiplin ilmu dan didampingi oleh dosen pembimbing yaitu Fitta Setiajiati, SHut, MSi.
“Dua atau tiga tahun lalu, kami juga sempat berkegiatan di Pasir Sarongge. Memang masyarakat Pasir Sarongge memiliki antusiasme yang tinggi untuk mau berkembang,” ujar Fitta.
Kegiatan sosialisasi ini dihadiri oleh Kepala Desa Ciputri, perwakilan dari pengurus Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), tokoh masyarakat, para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Sarongge, serta para pemuda yang tergabung dalam karang taruna.
Nia Novi Hertini selaku Kepala Desa Ciputri mengucapkan, “Selamat datang, kami senang dan menyambut bahagia teman-teman IPB University untuk berkegiatan di Desa Ciputri, khususnya Pasir Sarongge. Silakan manfaatkan potensi yang ada untuk dikembangkan dan silakan berkontribusi untuk masyarakat,” ujarnya.
Ia juga berharap dengan adanya kegiatan PPK Ormawa, hal itu akan menjadi titik balik dari diadakannya kembali Festival Sarongge. “Sudah lama tidak ada festival Sarongge dikarenakan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan anggaran pemerintah desa,” imbuh dia.
Bambang Mulyono, perwakilan dari TNGGP mengatakan bahwa Pasir Sarongge terkenal dengan adanya adopsi pohon. Kegiatan tersebut bermula ketika para petani menggunakan lahan TNGGP untuk lahan pertanian seluas 28 hektare. Namun, seiring dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya hutan, para petani bergeser ke bawah dan terjadilah adopsi pohon yang membuat Pasir Sarongge ini cukup dikenal.
“Adanya program PPK Ormawa ini kita bisa saling berkolaborasi dalam pengelolaan lahan untuk ke depannya agar bisa lebih baik lagi dan menjaga kelestarian,” harapnya.
Menurut Toska, tokoh masyarakat di Pasir Sarongge, terdapat dua kawasan hutan dengan status Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK) dengan jenis kopi arabika dan robusta. Akan tetapi produktivitas petani kopi masih terbilang rendah sehingga perlu adanya pelatihan bagi para petani kopi untuk meningkatkan produktivitas kopi di Pasir Sarongge. (*/Rz)
