Jepang Kenalkan Kikigaki ke Mahasiswa IPB
Kikigaki adalah salah satu metode pembelajaran bagi generasi muda tentang pengetahuan dan kearifan generasi tua dengan cara menggali dan mendokumentasikannya. Aktivitas ini dilakukan melalui dialog tatap muka langsung dan pewawancara menuliskan kembali hanya apa yang diucapkan oleh narasumber tanpa menambahkan sudut pandang dari pewawancara. Kikigaki sendiri memiliki arti mendengar dan menulis.
“Inilah salah satu keunikan dari metode kikigaki, dimana pembaca karya kikigaki seolah-olah mendengarkan narasumber tersebut berbicara secara langsung,” tutur Nahoko Yoshino dari Kyouzon no Mori Network, NGO di Jepang saat menjadi pembicara dalam Seminar Kikigaki yang digelar oleh Direktorat Program Pendidikan Kompetensi Umum (PPKU) Institut Pertanian Bogor (IPB) di Kampus IPB Dramaga, Bogor (2/2).
Kikigaki setiap tahunnya diajarkan kepada 100 siswa SMA di Jepang dan sudah dimulai sejak tahun 2002. Kikigaki dapat diterapkan sebagai bagian pendidikan literasi bagi mahasiwa PPKU IPB yang dapat menjadi bagian pendidikan karakter.
“Salah satu kebiasaan orang Jepang adalah menulis. Kebiasaan sederhana ini saya rasa sangat baik untuk ditiru. Pastinya akan bermakna jika dijalankan secara kontinu,” ujar Prof. Dr. Toni Bakhtiar, S.Si, M.Sc selaku Direktur PPKU IPB.
Dengan diterapkannya metode kikigaki diharapkan mahasiwa PPKU IPB dapat meningkatkan rasa empati mahasiswa terhadap sesama serta dapat menggali keunikan yang ada di daerah masing-masing. Sehingga kearifan lokal dan ilmu lokal dapat terekspos kembali serta dikembangkan lebih lanjut sebagai bagian dari proses capture knowledge bagi mahasiswa IPB.
Menurut Dr. Zaenal Abidin, S.Si. M.Agr selaku Asisten Direktur Bidang Asrama Mahasiswa dan Kemahasiswaan PPKU IPB sekaligus Sekjen Kikigaki Indonesia, Kikigaki di Indonesia awalnya diperkenalkan kepada siswa SMA Kornita Bogor dan SMA di Palu dan Donggala pada tahun 2012 dan mulai tahun 2018 kepada SMA di Kota Palangkaraya dan Gorontalo. Bencana gempa dan tsunami yang terjadi di Palu dan Donggala pada bulan September tahun 2018 membuat siswa asal Palu dan Donggala tidak dapat mengikuti lomba Kikigaki Indonesia.
“Kikigaki tidak hanya dapat mempelajari tentang pengetahuan dan kearifan generasi tua saja, namun metode ini ternyata dapat diterapkan pada tingkat kemanusiaan dan menjadi inovasi pada pendidikan mitigasi bencana,“ tutur Dr. Ir. Soeryo Adiwibowo, dosen Departemen SKPM FEMA IPB.
Acara ini diikuti oleh ratusan mahasiswa IPB dan puluhan siswa SMA dari Gorontalo, Bogor, Palangkaraya dan Donggala-Palu (Ama/Zul)
