Gagas Aplikasi My Bulog, Mahasiswa IPB Juara 2 Logistic Case Competition
Pembangunan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) pada hakekatnya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun peradaban bangsa. Kontribusi dari berbagai bidang sangat diperlukan, termasuk sumberdaya manusia. Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) memberikan kontribusinya dengan aplikasi “My Bulog”.
Aplikasi “My Bulog” yang digagas oleh tiga mahasiswa IPB, Budi Salam Muhammad, Indriani Juvita dan Gentur Ngudiharjo berhasil mengantarkan mereka menyandang gelar Juara 2 Logistic Case Competition tingkat nasional. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Profesi Mahasiswa Manajemen IPB bekerjasama dengan Badan Logistik (Bulog) pada tanggal 13-14 April di IPB.
Ide aplikasi My Bulog muncul untuk memecahkan kasus Rumah Pangan Kita (RPK) yang diberikan oleh pihak penyelenggara lomba. “Pada saat lomba kita diberikan kasus untuk dipecahkan. Kasusnya itu mengenai Rumah Pangan Kita. Jadi, Bulog itu kan sudah memiliki outlet-outlet penjualan dalam bentuk RPK, akan tetapi banyak masalahnya seperti distribusi yang kurang merata, kualitas tidak sesuai yang dijanjikan dan kurang kompetitif dengan tokoh-tokoh tradisional lainnya. Walaupun secara kuantitatif banyak yang mendaftar RPK, tapi secara kualitatif belum menunjukkan keberhasilan dari Bulog untuk pemerataan distribusi barang-barang. Oleh karena itu, kita mengambil solusi untuk masalah tersebut dari sudut pandang teknologi dan memberi solusi aplikasi yang namanya My Bulog,” kata Budi Salam Muhammad. My Bulog adalah sebuah sistem aplikasi berbasis membership yang bisa mempermudah pengantaran, admisnistrasi, dan strategi bisnis.
“My Bulog adalah sebuah aplikasi berbasis membership yang bisa mempermudah dalam pengantaran, administrasi, dan strategi bisnis. Untuk sistemnya sendiri, pembayarannya menggunakan kartu.Untuk Kartu nanti harus mendaftar melalui Bulog pusat, setelah itu baru didistribusikan oleh tiap-tiap RPK kepada konsumen,” kata Indriani Juvita. Sistem dari My Bulog ini sangat memudahkan konsumen yaitu hanya dengan membayar Rp 70 ribu dan menunjukkan fotokopi kartu tanda penduduk (KTP).
“Sistemnya ini, sangat mudah hanya bayar Rp70 ribu dan menunjukkan fotokopi KTP, lalu diinput di Bulog pusat. Bulog pusat mengirimkan kartu ke konsumen. Kartu ini bisa diisi ulang ke semua RPK terdekat. My Bulog ini ada dua sistem yaitu harian dan bulanan. Untuk yang bulanan, pembayaran dilakukan setiap bulan dan dua minggu sekali akan dikirim barang. Kalau yang harian itu tiap hari beli dan tidak ada saldo minimal, tetapi untuk yang bulanan ada saldo minimal sekitar Rp 200 ribu,” kata Budi.
Kelebihan dari My Bulog adalah menggunakan sifat membership yang bisa menjamin keakuratan data, kepastian modal dan keteraturan.
“Masalah logistik di Indonesia itu transfer datanya lambat. Kita menggunakan sistem membership, maka kita punya data terus juga punya modal dan punya keteraturan. Dengan sistem membership ini, kita bisa mengatur sistem distribusinya, agar nantinya tidak ada istilah kehabisan barang sebelum waktunya ataupun kelebihan. Dari sini kita bisa mengembangkan sistem bisnisnya dan memberikan pondasi untuk RPK, agar lebih berkembang menggunakan sistem aplikasi,” tambah Budi.
“Aplikasi My Bulog sedang dalam proses pengembangan dan tidak menutup kemungkinan dalam waktu dekat akan selesai. Nantinya aplikasi ini akan kami tawarkan kepada Bulog. Ini bisa membantu Bulog kalau memang berminat. Kita bisa memberi sentuhan akhir atau personifikasinya,” ujar mahasiswa Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB ini.(Ath/ris)
