IPB Dukung Penuh Tempe sebagai Warisan Budaya Dunia

IPB Dukung Penuh Tempe sebagai Warisan Budaya Dunia

Berita
Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia dan Forum Tempe Indonesia mengajukan tempe sebagai warisan budaya dunia UNESCO. Tempe merupakan produk fermentasi kacang kedelai oleh kapang Rhizopus oligosporus. Tempe dibuat dengan proses yang unik, mulai dibuat sejak beberapa abad lalu oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Bukti sejarah menunjukkan bahwa tempe dengan bahan dasar kedelai merupakan produk fermentasi yang pertama kali dibuat oleh masyarakat Klaten, Jawa Tengah dan sudah biasa dikonsumsi sejak tahun 1700-an.
 
“IPB dan banyak peneliti dari lembaga lain telah banyak melakukan penelitian tentang tempe. IPB sangat mendukung rencana pengajuan tempe ini," kata Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB, Dr.Titik Sumarti, saat konferensi pers di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor, Selasa (4/7).
 
Lebih lanjut Dr. Titik menjelaskan, tempe banyak diproduksi oleh industri kecil dan rumah tangga dengan kisaran produksi 10 kilogram – 2 ton per hari. Hingga saat ini terdapat lebih dari 100.000 produsen tempe yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Konsumsi tempe memberikan kontribusi minimal 10 persen dari total protein harian, sementara telur 1.25 persen, daging 3.15 persen dan sereal sekitar 60 persen. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2012 menunjukkan bahwa konsumsi tempe masyarakat Indonesia secara rata-rata mencapai 7 kilogram/kapita/tahun.
 
Ketua umum Pergizi Pangan Indonesia Prof.Dr Hardinsyah mengatakan, tempe bukan sekadar makanan, tapi juga memiliki nilai budaya, sejarah, dan ekonomi bangsa. Karena keunikannya, tempe layak jadi bagian budaya Indonesia.
 
Tampak hadir dalam konferensi pers adalah Prof Made Astawan, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian (Fateta) IPB sekaligus Ketua Forum Tempe Indonesia, sejumlah mahasiswa dan puluhan wartawan cetak dan elektronik. (wly)