Prof. Dr. Hugh Bigsby Sampaikan Kuliah Umum di Fahutan IPB
Kepala Departemen Akutansi, Ekonomi dan Keuangan Universitas Lincoln, New Zealand , Prof. Dr. Hugh Bigsby menyampaikan Kuliah Umum mengenai hasil penelitiaannya di Serawak. Kuliah umum ini diberikan di hadapan sivitas akademika Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor (Fahutan-IPB), Senin (16/4) di Kampus IPB Darmaga. ”Kami melakukan penelitian hutan karet di Serawak, Malaysia. Hutan ini sangat potensial dikembangkan menjadi pusat pelatihan regional manajemen kehutanan tropis di Asia Tenggara,” ujar Prof.Bigsby.
Prof. Bigsby adalah salah satu penggagas Post-Graduate Diploma dalam bidang Applied Science (Sustainable Forest Management), yang merupakan kerjasama antara Sarawak Timber Association (STA) and Lincoln University of New Zealand. “Untuk mewujudkan hal itu, kami membutuhkan hutan luas untuk proses belajar-mengajar dan pelatihan yang digunakan untuk mendemontrasikan manajemen hutan berkebelanjutan seperti Hutan Konservasi Danun dan Hutan Dermakot di Sabah,” kata Prof. Bigsby.
Dalam kesempatan ini, Prof.Bigsby menawarkan kerjasama di bidang kehutanan pada Fakultas Kehutanan IPB. Dr.Tatang Tiryana, Pengelola Hutan Pendidikan Gunung Walat, Fahutan IPB memaparkan keberhasilan IPB dalam mengubah lahan kosong menjadi hutan damar dan pinus yang lebat. “Dulu kami bekerja keras untuk membiayai pengelolaanya, kini kami bisa secara mandiri membiayai pemeliharaannya.” Hutan Pendidikan Gunung Walat menjadi tempat berbagai kegiatan di bidang kehtutanan, baik pendidikan, riset, maupun wisata. Di area tersebut didirikan camp yang terletak di tengah-tengah hutan pendidikan. Di kompleks camp terdapat mess untuk menginap, ruang pertemuan, ruang kelas, aula, mesjid, dapur dan fasilitas lainnya.
Ketua Departemen Manajemen Hutan IPB, Dr.Didik Suharjito selaku host kuliah umum ini menyampaikan kegiatan ini digelar dalam rangka memperluas kerjasama internasional dalam bidang kehutanan. “Dalam rangka menuju akreditasi internasional Departeman Manajemen Hutan IPB meningkatkan upaya kerjasama internasional seluas-luasnya,” kata Dr.Didik. (ris)
