Ilmu Sistem untuk Pengentasan Kemiskinan
Dalam ilmu sistem segala sesuatu perlu ada ilmunya. Pada tahun 1960, ilmu sistem baru dikembangkan. Pada tahun 1980, ilmu ini dikembangkan menjadi metode riset. “Metodologi riset yang hard diejawantahkan dalam bentuk angka. Sementara yang soft diejawantahkan dalam bentuk kata-kata (knowlegde engineering) dan saat ini diterapkan dalam riset kebijakan. Riset kebijakan ini diperoleh dari konsensus para pakar,” papar Guru Besar Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor (FATETA-IPB) Prof.Eriyatno dalam acara Coffee Morning System Expo ‘Peran Sistem dalam Penanggulangan Kemiskinan dan Pengembangan Agroindustri Pedesaan’, Rabu (4/4) di Kampus IPB Baranang Siang. Kegiatan ini juga dalam rangka prelaunching buku Solusi Bisnis untuk Kemiskinan karya Prof.Eriyatno dan Moh.Nadjikh.
Sifat ilmu sistem ada tiga yakni Sibernetik (berorientasi tujuan), Holistik (utuh), Efektif (harus dilakukan bukan sebatas konsepsi semata tanpa bisa diaplikasikan). Berbagai studi kebijakan dan penelitian terapan juga semakin banyak menggunakan ilmu sistem agar mendapatkan kumpulan dan teknologi yang komprehensif serta holistik. Salah satu topik riset yang memanfaatkan kelebihan pendekatan sistem (system approach) yang dilakukan Prof. Eriyatno adalah tentang industri rumahan yang dikaitkan dengan pemberdayaan perempuan. Saat ini Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3 IPB) dimana Prof.Eriyatno sebagai salah satu penelitinya, bekerjasama dengan Center of System, terus melakukan penelitian berbagai kebijakan dan aplikasinya di wahana industri rumahan.
Hasil penelitian PSP3 IPB menyatakan faktor kunci dalam pengembangan industri rumahan (cottage industry) adalah kreatifitas kerja dan karakter dari wirausaha perempuan. Merekalah sebagai innovator bagi usaha industri rumahan pemula dan juga sebagai motivator usaha industri rumahan yang sedang tumbuh serta menghadapi permasalahan bisnis di lapangan. “Peran wirausaha perempuan begitu dominan dalam menjamin keberangsungan bisnis dari industri rumahan, sehingga indikator keberhasian kunci banyak ditentukan oleh kapabiitas dan kewirausahaannya,” ujar Mantan Staf Ahli Kementerian Koordinasi Bidang Ekonomi dan Keuangan RI tersebut.
Masalah teknis yang dihadapi industri rumahan, menurut Prof.Eriyatno, adalah akses pembiayaan untuk modal kerja atau investasi. Dimana sumber dana tersebut murah, prasyaratnya cukup sederhana untuk sektor informal. Bagi perbankan, industri rumahan baru dapat dilayani bila dalam bentuk kelompok atau pun koperasi. Namun seringkali sulit dilakukan pengelompokkan industri rumahan mengingat ragam komoditi serta variasi kepemilikan yang tinggi. “Oleh karena itu harus ada skim pembiayaan khusus industri rumahan yang merupakan bauran sumber dana, sehingga biaya modal jadi rendah dan terjangkau,” tandas Peraih Penghargaan Bintang Jasa Pratama Republik Indonesia ini.
Lebih lanjut, Prof. Eriyatno mengatakan penting menetapkan suatu kawasan binaan sebagai pilot project atau model percontohan industri rumahan dalam dua kategori yaitu perdesaan (terutama penyedia Tenaga Kerja Wanita, seperti di Indramayu atau Blitar) dan perkotaan (kawasan industri kreatif seperti Kampung Batik-Laweyan, Solo). “Di perdesaan akan meminimalisasi dorongan para perempuan untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Sementara di perkotaan mendorong wirausahawan kreatif yang senantiasa bisa adaptasi menghadapi perubahan zaman,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut hadir pula Moh. Nadjikh, Alumni Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB sekaligus Chief Executive Officer (CEO) PT.Kelola Mina Laut. Kepedulian Nadjikh pada Usaha Mikro dan Kecil (UMK), serta jiwa enterpreneurship yang dimilikinya ternyata makin memperkokoh rantai pasokan industrinya secara berkelanjutan. “Kami memiliki karyawan sebanyak 8 ribu orang dan lebih dari 400 UMK di bawah binaan perusahaan kami,” ungkap Nadjikh. (ris)
