Alumni TIN IPB Bersama Membangun Agroindustri
Mohammad Najikh, pengusaha sukses yang juga alumni IPB menyerukan agar pemerintah segera menghentikan ekspor komoditi bahan baku dan menghentikan impor produk jadi. Untuk itu, Najikh meminta pemerintah untuk menggenjot agroindustri produk jadi baik untuk ekspor maupun domestik, dan memperbolehkan impor bahan baku untuk diolah menjadi produk jadi.
Tidak hanya itu, Najikh juga mengusulkan agar regulasi perpajakan pro bisnis, high cost economy dihilangkan, infrastruktur yang dibutuhkan dibangun dan memadai, serta adanya pembiayaan sektor UKM Agro yang kompetitif.
Hal itu disampaikan Najikh dalam paparannya bertajuk “Daya Saing Agroindustri: Pengalaman Empiris Pengusaha”, pada Simposium Nasional Agroindustri IV dan Temu Alumni Teknologi Industri Pertanian (TIN) IPB, Sabtu (24/9) di IICC Bogor.
Sebelumnya, Guru Besar TIN IPB Prof.Dr. Eriyatno mengatakan, agroindustri perlu dikembangkan dalam kerangka tatanan perekonomian yang berbasis pada sumberdaya lokal, berorientasi pada masyarakat dan mengabdi untuk membangun kehidupan yang lebih baik bagi semua, serta tidak hanya meningkatkan keuntungan dan pertumbuhan.
Agroindustri, terangnya, mempunyai peranan penting sebagai peredam gejolak sekaligus katup pengaman bilamana terjadi krisis finansial global maupun krisis ekonomi di tingkat nasional.
“Oleh karena itu, agroindustri perlu bermetamorfosa, tidak lagi hanya sebagai wahana mencari keuntungan bagi para pemilik modal besar. Tapi juga terkait fungsi kebersamaan komunitas lokal serta kepedulian sosial yang mendasari tercapainya kesejahteraan rakyat,” imbuh Prof Eriyatno yang didampingi Ketua Panitia Pelaksana, Dr. Aji Hermawan.
Dalam simposium yang diikuti ratusan alumni TIN IPB ini juga diluncurkan buku karya Prof Eriyatno berjudul “Membangun Ekonomi Komparatif: Strategi Meningkatkan Kemakmuran Nusa dan Resiliensi Bangsa”. Peluncuran ditandai dengan penyerahan buku kepada Rektor IPB Prof.Dr. Herry Suhardiyanto dan Wakil Ketua Komite Tetap Industri Derivatif Pertanian KADIN H. Suharyo Husen. (nm)
