IPB Kerjasama dengan Kagosima University Menyelamatkan Hutan Kritis di Indonesia
“Separuh mangrove di Indonesia rusak dan kritis, untuk itu perlu upaya penyelamatan yang serius," demikian ungkap Prof. Cecep Kusmana dalam acara workshop JSPS (Japan Society for Promotion Science) dengan topik “Protecting Diversity of Bioresources in Tropical Forest” di Gd. Sylva Pertamina Fakultas Kehutanan, Kampus IPB Darmaga, (15/11).
Di hadapan para peserta workshop, Prof. Cecep memperkenalkan teknologi Guludan, sebagai salah satu teknologi tepat guna untuk penyelamatan mangrove di Indonesia.
Caranya sangat sederhana, cerucuk bambu atau "guludan" dibuat membentuk petakan dengan ukuran yang disesuaikan, dalam penelitian ini berukuran 4 meter (lebar) x 6 meter (panjang) x 2 meter (dalam).
Dikemukakannya bahwa "guludan" tersebut diisi dengan tumpukan karung berisi tanah di bagian bawahnya, yang kemudian diurug dengan tanah curah di bagian atasnya sedalam lebih kurang 50 sentimeter yang berperan sebagai media tanaman.
Selanjutnya, anakan mangrove ditanam pada permukaan tanah tersebut dengan pola tanam dan jarak tanam tertentu dimana jarak yang berdekatan akan lebih ideal, sehingga hasilnya akan lebih baik.
Selain riset teknik Guludan dari Prof. Cecep, dipresentasikan juga sejumlah hasil riset dari 18 peneliti dari Jepang, Malaysia, Korea, Madagaskar dan Afrika.
Workshop JSPS ini terselenggara atas kerjasama IPB dan Kagosima University, Jepang untuk membahas bagaimana melindungi keanekaragaman hayati di hutan Indonesia dan mendorong peneliti-peneliti muda melakukan riset secara terintegrasi. Di hari ke dua para peserta dipandu berkunjung ke taman pendidikan Gunung Walat, Sukabumi untuk menyaksikan keberhasilan rehabilitasi hutan yang kritis.
Selain aktif dalam kerjasama riset terkait konservasi dan rehabilitasi hutan, ke depan, seperti yang sudah tercantum dalam naskah kerjasama, IPB dan Kagosima University akan bekerjasama dalam bidang pertukaran mahasiswa. (Dh)
.
