Peneliti IPB Ramal Produksi Bunga Krisan Potong

Peneliti IPB Ramal Produksi Bunga Krisan Potong

puspita-nusantara
Berita

Peneliti Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Insititut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dr. Kudang Boro Seminar  bisa meramal jumlah produksi  bunga krisan potong  alias  Chrysanthemu, sp yang optimal.  “Dengan menggunakan  pendekatan System Development Life Cycle(SDLC), kami membuat software khusus yang dapat meramal kebutuhan produksi bunga krisan potong di perusahaan bunga ekspor di Cipanas Jawa  Barat,” tutur Prof. Kudang.

Penelitian ini menggunakan metode time series untuk mengetahui peramalan permintaan, dan simulasi Monte Carlo  untuk mengetahui perkiraan biaya total  aktivitas produksi per tombol  rumah kaca (green house)  dalam satu periode tanam.  Software ini dapat digunakan untuk  meramal jumlah permintaan setiap varietas dalam satu minggu, biaya total produksi, dan kebutuhan sarana produksi dalam satu periode tanam.  Software perencanaan produksi krisan ini memakai input  atau masukan data jumlah penjualan beberapa jenis varietas selama dua tahun, data lokasi, data sarana produksi dan biaya aktivitas produksi dalam menentukan produksi krisan.

Alasan Prof. Kudang bersama Staf Pengajar Departemen Teknik IPB,  Dr.Ratna Sari memilih obyek penelitian tersebut,  karena krisan  potong salah satu komoditas bunga potong andalan  penting dalam perdagangan internasional tanaman hias Indonesia. Berdasarkan informasi dari Badan Pusat  Statistik (BPS) pada tahun 2003, perdagangan komoditas ini di Indonesia mengalami surplus satu juta dollar. Negara-negara penghasil krisan utama seperti Jepang dan Belanda hanya menyuplai kurang dari 60 persen. Sementara kontribusi negara-negara penghasil krisan di Asia Tenggara seperti Indonesia baru sekitar 10 persen dari permintaan total dunia. Melihat hal ini, peluang bisnis krisan ini masih sangat menjanjikan.

Disamping potensial secara ekonomis, komoditi bunga krisan potong selama ini masih menyimpan masalah dan hambatan dalam hal pengembangannya. Pengendalian hama dan penyakit tanaman krisan masih banyak tergantung  pestisida dengan penggunaan berlebihan. Hal ini menimbulkan dampak negatif terhadap  lingkungan serta mengakibatkan tingginya biaya produksi. “Perbaikan dalam pengembangan produksi sangat diperlukan untuk membantu mengatasi masalah tersebut. Oleh karena itu,  software yang dapat meramal produksi krisan ini diharapkan menekan biaya produksi sekaligus meminimalisir dampak negatif lingkungan akibat pemakaian pestisida berlebihan,” tandas Direktur Komunikasi dan Sistem Informasi IPB ini.

Peramalan yang digunakan dalam sistem software  ini ada dua metode, yaitu metode kualitatif (moving average) dan kuantitatif (exponential smoothing). Penggunaan software ini mampu menurunkan kesalahan peramalan kuantitatif hingga  8, 32 persen. Nilai ini   lebih baik dari kesalahan peramalan kualitatif  yang biasa dilakukan perusahaan selama ini yakni  sebesar 15,12 persen. Ini berarti penggunaan  peramalan kuantitatif software yang dibuat mampu menurunkan kesalahan  peramalan  sebesar 50 persen.  Sementara nilai kesalahan  antara biaya riil total produksi perusahaan dengan hasil simulasi biaya total aktivitas produksi sebesar 0,92 persen, setelah dikonversikan terlebih dahulu.

Pria yang menuntaskan studi S3-nya di Fakulty of Computer Science University of New Brunswik Canada ini menyarankan walaupun metoda moving average telah terbukti memberikan nilai kesalahan  yang relatif lebih kecil dari peramalan kualitatif yang digunakan perusahaan selama ini, namun error sebesar 8,32 persen masih perlu diperkecil lagi dengan melakukan perbaikan metoda peramalan. “Software dalam penelitian ini masih untuk komputer stand alone. Perusahaan diharapkan mengembangkan software ini pada komputer berbasis Local Area Network (LAN) atau Wide Area Network (WAN) atau berbasis website, sehingga dapat digunakan  untuk unit-unit yang lebih tersebar di beberapa wilayah geografis  berbeda dan berjauhan,” kata Ketua  Himpunan Informatikan Pertanian Indonesia (HIPI) itu. 

Selain itu, lanjut  Anggota Asian Federation for Information Technology in Agriculture (AFITA) tersebut, untuk menjaga keberlangsungan data (up to date), maka perawatan sistem software mutlak diperlukan. Perawatan sistem software tersebut meliputi penambahan animasi, pembuatan laporan setiap bulannya, modifikasi dan penambahan fitur baru untuk kemudahan akses serta kemudahan operasional program. Di samping juga memodifikasi software sesuai  kebutuhan pengguna dan penyesuaian terhadap perubahan yang terjadi di perusahaan tersebut. (ris)